PART 5
Six Sense: Ghost
Mella dan
Ragil masih di rumah sakit menemani adik Ragil yaitu Ana. Ana semakin membaik
sejak Ragil menemani dirinya, mungkin karena ikatan persaudaraan yang dekat membuatnya
cepat pulih. Ragil mencoba cuek dengan apa yang disekitarnya. Hantu hantu
disini membuatnya tak nyaman.
“Uuh Mel, aku tak enak jika dipandangi seperti ini terus menerus” Bisik
Ragil
“Ya mau gimana lagi, orang hantunya suka sama kau” Mella menahan tawa
“Emang gak bisa ngusirnya?”
“Kamu mau disangka gila?”
“Yaa… Enggak, tapi kan…” Kata kata Ragil berhenti karena ditatap oleh
Ana. “Eeh, kenapa?”
“Kakak udah gila ya?” Kata Ana sambil mendekati Ragil
“E… Enggak lah, kakak waras gini”
“Tapi kok kakak ngerasa ada yang merhatiin kakak? Kan cuma kak Mella yang
merhatiin kakak. Lagian kak Mella juga manusia”
“En… Enggak kok” Ragil mulai gugup, apalagi Ana sudah berada persis
didepannya
“Hmmm…” “Gapapa deh, yang penting kakak gak gila” Kata Ana yang langsung
memeluk Ragil
Ragil menghela napas lega, ia lirik Mella yang sendari tadi menahan tawa.
Ragil hanya dapat pasrah dilihat oleh para hantu.
“Mel…” Bisik Ragil pada Mella
“Hmm?”
“Ayo pulang”
Mella mengangguk, Ragil dan Mella lalu pamit pada orang tua Ragil dan
Ana. Mereka berdua lalu keluar dari kamar Ana dan diluar banyak hantu sekitar 3
kali lipat dari kamar Ana. “Huh, buat orang kesel aja” Batin Ragil kesal. Ia
keluar dari kamar Ana dengan tampang malas, Mella hanya bisa geleng geleng
kepala melihat Ragil bermalas malasan.
“Ayo dong! Semangat” Kata Mella pada Ragil
“Ah, semangat gimana, orang hantu hantu disini dari tadi ngelihatin aku
terus” Kata Ragil
setengah kesal
“Yaa… Itu masalahmu”
“Tapikan kamu yang memberiku kekuatan”
“Iya sih, tapi sekarang semuanya tergantung kamu” Kata Mella sambil
tersenyum
Ragil menghela napas lesu, mereka lalu sampai di lift dan turun ke lantai
1. Lalu Ragil dan Mella menuju tempat parkir dan mencari motornya. Setelah
menemukan motornya, saat Ragil ingin menyalakannya, Mella tiba tiba memegang
tangannya.
“Ada apa?” Tanya Ragil bingung
“Lihat” Mella menunjuk hantu perempuan manis sebayanya yang berjalan
dengan kaki terseok seok, kepalanya pecah dan terlihat darah mengalir. “Tuh ada
kerjaan”
“Eh, nggak bisa nanti?”
“Pokoknya sekarang! Aku mau lihat cara kamu bantu hantu itu” Kata Mella
sambil mendorong Ragil
Ragil menghela napas lesu, ia berjalan dengan tampang malasnya. Ia
melihat kanan dan kiri apakah ada orang kecuali Mella. Ia tak mau disangka gila.
Ragil dekati hantu itu dan berbicara padanya.
“Hai” Kata Ragil pada Hantu itu
“Eh, kau… Bicara padaku?” Hantu itu tampak kaget melihat kehadiran Ragil
“Ya… Siapa lagi?” “Apa kau butuh bantuan?”
“I… Iya, apa kau dapat menolongku?”
“Bisa saja, sekarang, siapa namamu?” Tanya Ragil pada hantu itu
“Aku Lisa” Hantu itu memperkenalkan diri dengan sopan
“Yah, aku Ragil. Apa masalahmu?” Tanya Ragil malas
“Aku… Aku korban tabrak lari di jalan sudirman”
“Bagaimana ciri ciri mobil atau motor yang menabrakmu?”
“Mobil BMW dengan warna silver dan no plat mobilnya B 458… JK aku tak
tahu lanjutan nomor platnya itu”
“Baiklah, siapa saja yang tau kejadian itu?”
“Hanya 2 orang yang menjadi saksi mata, yaitu kakakku dan aku. Baiklah,
hanya itu yang bisa kusampaikan” Lisa lalu menghilang.
“Bakalan sulit nih” Batin Ragil. “Eh, aku lupa tanya siapa nama kakaknya
itu!”. Ragil lalu berlari ke arah Mella. Ia lihat Mella yang berwajah kesal.
“Eh, kenapa aku kesal?” Batin Mella sambil menepuk nepuk wajahnya.
“Kenapa?” Tanya Ragil pada Mella
“T… Tidak apa apa” Jawab Mella gugup
“Oh, ya sudah”
“Eh, apakah kau menemukan masalah yang menimpa hantu itu? Dan siapa
namanya?”
“Namanya Lisa, ia adalah korban tabrak lari di jalan sudirman. Hanya dia
dan kakaknya yang ada disana, kakaknya menjadi saksi mata”
“Siapa nama kakaknya?”
“Aku… Aku lupa bertanya”
“Bodohh!!” Bug! Mella memukul perut Ragil
“Uh… Sakit tau! Maaf deh, aku lupa tanya. Sekarang yang penting mencari
siapa kakaknya”
“Benar, tapi, dimana alamatnya?”
“Aku juga tak tahu, jangan dipukul lagi dong.”
“Ya sudah! Ayo cepat berangkat!”
Ragil lalu menghidupkan mesin motornya dan segera melaju.
Mereka berdua sekarang sudah sampai
di jalan sudirman. Mereka lalu bertanya pada orang apakah ada tabrak lari disini
akhir akhir ini. “Disini terakhir kali ada tabrak lari 2 hari yang lalu, ada 2
orang di dalam kejadian itu, yang 1 perempuan, ia mati ditempat dan yang 1 laki
laki yang selamat walaupun ada luka ringan tapi tak membahayakan hidupnya. Aku
tak tahu apa yang menabraknya, aku tahu karena laki laki itu berteriak minta
tolong” Tutur seorang warga. Mella dan Ragil masih mencari dimana kakak Lisa
berada, ia bertanya pada semua orang, tapi hanya 3 orang yang tahu kejadian
itu, dan jawabannya semuanya sama.
Mella dan
Ragil bingung ingin kemana lagi, mereka sudah lelah mencari. Akhirnya mereka
beristirahat di warung dekat jalan sudirman. Sekarang Ragil yang membayar,
mereka pesan 2 es teh.
“Jadi…
Sepertinya informasinya benar, mereka semua berkata kalau ada 1 perempuan yang
mati, kemungkinan itu Lisa” Kata Mella
“Aku setuju
denganmu, BMW itu menabraknya dengan sengaja, tapi, kenapa semuanya tak melihat
kejadian itu? Hanya kakaknya yang melihatnya?” Ragil meminum es tehnya
“Benar, itu
adalah kejadian yang janggal. Kenapa hanya mereka berdua yang melihatnya?”
“Seharusnya
aku bertemu lagi dengan Lisa…”. Tiba tiba Lisa datang
“Panjang umur”
Kata Ragil sambil tersenyum.
“Si brengsek
kesini lagi…” Batin Mella. Ia tampak kesal kembali. “Eh… Tak mungkin!” Mella menepuk
pipinya
“Bagaimana
Ragil? Apa kau menemukan petunjuk?” Tanya Lisa
“Sudah, ada
sesuatu yang janggal. Kenapa hanya kau dan kakakmu yang tahu kejadian itu?
Sementara yang lain tak tahu?” Ragil berbicara pelan agar tak disangka orang
gila karena berbicara sendiri
“Kenapa bisik
bisik?”
“Aku tak mau
disangka gila”
“Bukankah kau
memang gila?”
“Ngawur!
Siapa yang gila!”
“Tapi,
biasanya orang yang melihatku adalah orang gila”
“Sudahlah
ganti pembicaraan, jawab pertanyaan Ragil” Mella ikut nimbrung
“Sebenarnya…
Di sana, aku dan kakakku, Ran. Kami berdua berjalan menuju rumah saat kondisi
dijalan hujan lebat. Jadi dijalan sana sangatlah sepi. Tiba tiba dari belakang
kami ada BMW yang melaju sangat kencang dan menabrakku secara sengaja. Kakakku
berhasil menghindar, tapi ia terserempet sedikit. Tiba tiba aku merasa seperti
melayang dan pandanganku gelap seketika. Samar samar aku lihat cahaya putih
didepanku, aku berlari menuju kesana. Saat sampai disana, aku kembali ke jalan
itu. Tapi, tubuhku ada dibawahku. Aku lihat tanganku sedikit transparan ‘aku
sudah mati?’ aku berpikir begitu. Aku menangis disana”
“Jadi… Bukan
tabrak lari. Tabrak sengaja dan langsung lari, begitu…”
“Begitulah…”
“Jadi…”
Bersambung
....
No comments:
Post a Comment