Find a other post

Monday, September 21, 2015

Bully = MOS? Wut?

Lho? Kok ditunda tunda terus si Six Sensenya. Ok, maap bgt yg nunggu Six Sense, sebagai hiburan ini dulu yak.
*Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar

Bullying = MOS

Namaku Ragil. Seorang siswa tanpa dibayar disebuah sekolah di Jakarta. Hobiku bermacam macam. Tak bisa kusebutkan satu satu. Umur? 15 tahun, kini aku berada di SMA yang dibilang cukup membosankan. Apalagi ini adalah hari pertama sekolah. Huh, seperti biasa, perkenalan, visi misi, dibully kakak kelas. Yap, kalau jawabanmu itu MOS kalian benar. Duduk berjam jam dikelas? Membosankan.

“Eh Gil, lu juga sekolah sini?” Sapa temanku dari belakang, namanya Ardi
“Yah, terpaksa si sekolah sini” Jawabku sambil terus berjalan
“Terpaksa? Napa?”
“Gw telat daftar SMK, jadi bisanya disini”
“Berarti keberuntungan gw ni bisa satu sekolahan sama lu!”. “Btw, lu maunya satu sekolahan sama si Lyla?”

Aku tak menghiraukannya. Aku terus berjalan menuju kantin tanpa mempedulikan sekitarku. “Maunya si gitu” Batinku Lesu.

“Bu! Baksi 1 porsi sama es teh!” Kataku seraya duduk dibangku kantin
“Ah, lu maen tinggal aja Gil! Dengerin dulu!” Ternyata dari tadi Aldi mengikutiku
“Apaan?” Es teh yang kupesan sudah siap dimeja
“Lyla kan juga sekolah disini”

Uhuk uhuk! Aku tersedak setelah mendengar perkataannya tadi.

“B... Beneran?!” Tanyaku tak percaya

Aldi mengangguk, ia kemudian pergi meninggalkanku tampa berkata apa apa lagi. Kutampar wajahku dan ternyata sakit. “Bukan mimpi...” Batinku. Tiba tiba, seseorang menduduki bangku tepat disebelahku. Terlihat seorang perempuan cantik berambut hitam terurai kebawah.

“Ly... Lyla?” Kataku Refleks
“Eh, kamu...” Jawabnya sambil tersenyum. “Siapa?”
“Emm...” Aku hanya diam keheranan. “Lupa ingatan apa yak?” Gumamku
“Hehehe... Becanda Gil!”. Lyla menepuk pundakku. “Kamu sekolah disini toh, bukannya kamu maunya di SMK?”
“Eh... Iya, tapi aku telat daftarnya. Jadinya bisanya disini”
“Gitu...”. “Bu! Bakso 1!”

Aku hanya tersenyum melihatnya. “Kata katanya ternyata tak bohong”.
            Kriiinngg!! Tanda mulai pelajaran berbunyi begitu nyaring. Semua siswa berjalan kedalam kelas, kecuali aku. Aku masih duduk dikantin sambil bermain COC dan juga bikin males masuk sekarang karena MOS.

“Hei Gil! Ayo masik!” Ajak Lyla. Kan udah bel!”
“Nggak ah, males. Lagian sekarang juga MOS, disiksa deh sama kakak kelas”
“Ya udah...” Lyla pergi meninggalkanku

Aku masih duduk santai dikantin, dan... Saatnya pertunjukkan. Brak! Tiba tiba meja didepanku dihantam oleh seorang laki laki berbadan kekar dengan dua orang anak buahnya. Mereka adalah kakak kelas.

“Heh! Ada junior songong nih!” Kata orang berbadan kekar itu
“Bener...” Sebelahnya ikut ikutan. “Sendirian disini”
“Sini duit duit duit!!”

Orang itu memalakku. Aku hanya diam sambil menatapnya kesal.

“Apaan lu natap kita kek begitu” Orang itu mengangkat kerah bajuku
“Diem...”

Buagh! Sebuah tinjuan mendarat dipipiku hingga mulutku mengeluarkan darah segar. Namun itu malah membuat emosiku meluap. Aku dorong tubuhnya, kemudian aku naik keatas meja dan menendang kepalanya.

“Mau apa lu!?” Dua orang anak buahnya memegangi kakiku. Syut! Brak! Tulangku rasanya ingin patah saat mereka berdua menghantamkan badanku kemeja. Aku bangkit lalu memelintir tangan mereka berdua
“Hei hei! Sudah!” Tiba tiba ibu kantin datang melerai. “Apa apaan kalian ini?!”

Kemudian aku melepaskan cengkramanku dengan kasar, untung saja tangan mereka belum patah. Kalau patah, duh, berabe nih.

“Ada apa ini?!” Ternyata seorang siswi melaporkan kejadian itu ke kepala sekolah

Pak kepsek mengomeli kami sebentar, lalu menyuruh kami untuk keruangannya. Sampai disana, kami kembali diomeli lebih dari 20 menit lalu disuruh untuk menandatangani surat.

“Apa ini pak?” Tanya orang berbadan kekar itu
“Surat skorsing” Mereka kaget, terkecuali aku
“A... Apa pak?! Skors!? Kenapa?!”
“Kalian sudah membuat keributan disekolah”. “Ragil, walau kau murid baru. Kau akan tetap saya skors”

Aku tak menjawabnya, aku hanya diam sambil memandangi surat itu. Mereka sudah tanda tangan dan enyah dari ruangan itu.

“Kenapa diam? Cepat tanda tangani!” Perintah pak kepsek. “Cepat!”
“Kenapa saya harus tanda tangan?” Tanyaku
“Karena kamu sudah membuat onar disekolah!”
“Onar? Cih, saya ini korban. Tadi saya hanya membela diri”
“Jangan bohong!”
“Silakan bapak mau apakan saya, tapi yang jelas, saya adalah korban dan saya tak akan menandatangani ini”

Wajah kepsek merah padam.

“Lalu kenapa kamu tidak masuk kelas tadi?”
“Karena MOS, yang singkatannya Masa bOdoh buat Saya”
“Apa?!”
“MOS tidak ada gunanya, apa bapak pernah berpikir, kami, siswa baru hanya dipermalukan dan disuruh melakukan hal yang amat sangat bodoh oleh kakak kelas?”. “Apa itu cara untuk mengakrabkan siswa baru? Atau malah menyiksa?” Kepala sekolah itu diam saja. Kemudian aku mengambil surat itu dan... Bret! Surat itu menjadi dua bagian
“Ini sudah diterapkan oleh semua sekolah!”
“Masa?”
“Benar!”
“Bodo”

Aku pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah dan menuju ke kelasku untuk duduk dan tidur.

                                                                                                            TAMAT
....

No comments:

Post a Comment