*Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar
Bullying
= MOS
Namaku
Ragil. Seorang siswa tanpa dibayar disebuah sekolah di Jakarta. Hobiku bermacam
macam. Tak bisa kusebutkan satu satu. Umur? 15 tahun, kini aku berada di SMA
yang dibilang cukup membosankan. Apalagi ini adalah hari pertama sekolah. Huh,
seperti biasa, perkenalan, visi misi, dibully kakak kelas. Yap, kalau jawabanmu
itu MOS kalian benar. Duduk berjam jam dikelas? Membosankan.
“Eh
Gil, lu juga sekolah sini?” Sapa temanku dari belakang, namanya Ardi
“Yah,
terpaksa si sekolah sini” Jawabku sambil terus berjalan
“Terpaksa?
Napa?”
“Gw
telat daftar SMK, jadi bisanya disini”
“Berarti
keberuntungan gw ni bisa satu sekolahan sama lu!”. “Btw, lu maunya satu
sekolahan sama si Lyla?”
Aku
tak menghiraukannya. Aku terus berjalan menuju kantin tanpa mempedulikan
sekitarku. “Maunya si gitu” Batinku Lesu.
“Bu!
Baksi 1 porsi sama es teh!” Kataku seraya duduk dibangku kantin
“Ah,
lu maen tinggal aja Gil! Dengerin dulu!” Ternyata dari tadi Aldi mengikutiku
“Apaan?”
Es teh yang kupesan sudah siap dimeja
“Lyla
kan juga sekolah disini”
Uhuk
uhuk! Aku tersedak setelah mendengar perkataannya tadi.
“B...
Beneran?!” Tanyaku tak percaya
Aldi
mengangguk, ia kemudian pergi meninggalkanku tampa berkata apa apa lagi.
Kutampar wajahku dan ternyata sakit. “Bukan mimpi...” Batinku. Tiba tiba,
seseorang menduduki bangku tepat disebelahku. Terlihat seorang perempuan cantik
berambut hitam terurai kebawah.
“Ly...
Lyla?” Kataku Refleks
“Eh,
kamu...” Jawabnya sambil tersenyum. “Siapa?”
“Emm...”
Aku hanya diam keheranan. “Lupa ingatan apa yak?” Gumamku
“Hehehe...
Becanda Gil!”. Lyla menepuk pundakku. “Kamu sekolah disini toh, bukannya kamu
maunya di SMK?”
“Eh...
Iya, tapi aku telat daftarnya. Jadinya bisanya disini”
“Gitu...”.
“Bu! Bakso 1!”
Aku
hanya tersenyum melihatnya. “Kata katanya ternyata tak bohong”.
Kriiinngg!! Tanda mulai pelajaran
berbunyi begitu nyaring. Semua siswa berjalan kedalam kelas, kecuali aku. Aku
masih duduk dikantin sambil bermain COC dan juga bikin males masuk sekarang
karena MOS.
“Hei
Gil! Ayo masik!” Ajak Lyla. Kan udah bel!”
“Nggak
ah, males. Lagian sekarang juga MOS, disiksa deh sama kakak kelas”
“Ya
udah...” Lyla pergi meninggalkanku
Aku
masih duduk santai dikantin, dan... Saatnya pertunjukkan. Brak! Tiba tiba meja
didepanku dihantam oleh seorang laki laki berbadan kekar dengan dua orang anak
buahnya. Mereka adalah kakak kelas.
“Heh!
Ada junior songong nih!” Kata orang berbadan kekar itu
“Bener...”
Sebelahnya ikut ikutan. “Sendirian disini”
“Sini
duit duit duit!!”
Orang
itu memalakku. Aku hanya diam sambil menatapnya kesal.
“Apaan
lu natap kita kek begitu” Orang itu mengangkat kerah bajuku
“Diem...”
Buagh!
Sebuah tinjuan mendarat dipipiku hingga mulutku mengeluarkan darah segar. Namun
itu malah membuat emosiku meluap. Aku dorong tubuhnya, kemudian aku naik keatas
meja dan menendang kepalanya.
“Mau
apa lu!?” Dua orang anak buahnya memegangi kakiku. Syut! Brak! Tulangku rasanya
ingin patah saat mereka berdua menghantamkan badanku kemeja. Aku bangkit lalu
memelintir tangan mereka berdua
“Hei
hei! Sudah!” Tiba tiba ibu kantin datang melerai. “Apa apaan kalian ini?!”
Kemudian
aku melepaskan cengkramanku dengan kasar, untung saja tangan mereka belum
patah. Kalau patah, duh, berabe nih.
“Ada
apa ini?!” Ternyata seorang siswi melaporkan kejadian itu ke kepala sekolah
Pak
kepsek mengomeli kami sebentar, lalu menyuruh kami untuk keruangannya. Sampai
disana, kami kembali diomeli lebih dari 20 menit lalu disuruh untuk
menandatangani surat.
“Apa
ini pak?” Tanya orang berbadan kekar itu
“Surat
skorsing” Mereka kaget, terkecuali aku
“A...
Apa pak?! Skors!? Kenapa?!”
“Kalian
sudah membuat keributan disekolah”. “Ragil, walau kau murid baru. Kau akan
tetap saya skors”
Aku
tak menjawabnya, aku hanya diam sambil memandangi surat itu. Mereka sudah tanda
tangan dan enyah dari ruangan itu.
“Kenapa
diam? Cepat tanda tangani!” Perintah pak kepsek. “Cepat!”
“Kenapa
saya harus tanda tangan?” Tanyaku
“Karena
kamu sudah membuat onar disekolah!”
“Onar?
Cih, saya ini korban. Tadi saya hanya membela diri”
“Jangan
bohong!”
“Silakan
bapak mau apakan saya, tapi yang jelas, saya adalah korban dan saya tak akan
menandatangani ini”
Wajah
kepsek merah padam.
“Lalu
kenapa kamu tidak masuk kelas tadi?”
“Karena
MOS, yang singkatannya Masa bOdoh buat Saya”
“Apa?!”
“MOS
tidak ada gunanya, apa bapak pernah berpikir, kami, siswa baru hanya
dipermalukan dan disuruh melakukan hal yang amat sangat bodoh oleh kakak
kelas?”. “Apa itu cara untuk mengakrabkan siswa baru? Atau malah menyiksa?”
Kepala sekolah itu diam saja. Kemudian aku mengambil surat itu dan... Bret!
Surat itu menjadi dua bagian
“Ini
sudah diterapkan oleh semua sekolah!”
“Masa?”
“Benar!”
“Bodo”
Aku
pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah dan menuju ke kelasku untuk duduk dan
tidur.
TAMAT
....
No comments:
Post a Comment