Find a other post

Tuesday, September 1, 2015

Six Sense

Berhubung lagi seneng, lanjutnya cepet



PART 4
Six Sense: Dimension

            Ragil dan Mella sampai di suatu tempat yang gelap dan hanya ada 3 lilin yang membentuk lambang illuminati. Ragil dan Mella duduk ditengah tengah illuminati itu. Tubuh mereka tak bisa digerakkan, jika digerakkan mereka merasa seperti diikat lebih kencang.

“Fufu… Selamat datang di duniaku” Kata seseorang yang membuat Ragil dan Mella bertambah panik

“Si… Siapa k… Kau?” Kata Mella yang terlihat takut

“Heh, apakah kau tak ingat?” Suara itu membuat Mella gelagapan

“I… Iblis?” Ragil berkata secara reflek

“Khu khu khu… Bocah, kau pintar menebak”

“Apa… Apa yang kau inginkan dariku?”

“Tak banyak… Aku hanya ingin kau menyimpan ini” Kata iblis yang mulai terlihat tubuhnya. Wajahnya sama seperti manusia biasa, tapi tubuhnya… Ular. Iblis itu mengambil sesuatu dari mulutnya. “Ini, simpan ini… Jika hilang, kau akan tanggung akibatnya” Iblis itu memberikan batu berlian berbentuk persegi panjang kepada Ragil

“Untuk apa ini?” Tanya Ragil

“Kau bisa menggunakannya untuk apa saja” Kata Iblis itu. “Dan kau…” Iblis itu menunjuk Mella. “Jangan kau macam macam dengan dia” Mella tampak kaget mendengar kata kata itu.

“Kalau begitu, aku pergi. Sampai jumpa” Kata Iblis itu yang langsung menghilang dalam kegelapan

Mella dan Ragil dikeluarkan dari tempat itu. Mereka kembali ke tempat mereka semula yaitu kantor majalah. Mella juga sekarang agak takut pada Ragil. Ragil mencoba menenangkan dirinya dan Mella karena mereka habis mengalami hal yang diluar akal sehat.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan” Kata Ragil pada Mella

“A… Aku takut…” Mella yang tegang dari tadi akhirnya membuka mulut. “Eh…” Mella kaget saat Ragil tiba tiba memeluknya

“Tak usah takut, kita tak akan apa apa. Yang penting kita selamat”

“I… Iya…” Mella mulai agak tenang

            Setelah Mella tenang, Ragil mengantar Mella pulang ke rumahnya. 10 menit kemudian mereka sampai di rumah Mella.

“Bye!” Kata Ragil pada Mella

“Yaa…” Mella langsung berlari kerumahnya.

Ragil berjalan menuju rumahnya. Ia langsung memarkir motornya di garasi dan masuk kerumah. Ia lalu menyalakan TVnya dan merebahkan dirinya kesofa. Ia mengambil batu berlian dari kantung celananya. “Ah apaan sih ini, ga jelas banget” Batin Ragil. Ia amati batu itu , tak ada keanehan apa apa. “Ah, masa bodo” Ragil lalu mengantongi lagi batu itu ke kantong celananya. Rumahnya kini dihuni oleh banyak orang, Ragil bego mengira orang orang itu adalah suruhan temannya yang benci padanya. Padahal mereka semua adalah hantu. Ragil sebodo gila sama semuanya. Ia sungguh kesal hari ini, mulai dari dunia aneh milik iblis, sampai orang orang di rumahnya. Ragil mematikan TVnya dan menuju ke lantai 2 dan langsung tidur.

Dua hari setelah kejadian itu, Ragil sudah tahu bahwa semua orang yang dilihatnya adalah hantu karena sudah dijelaskan oleh Mella kemarin sore. Saat Ragil mengetahui semuanya, ia langsung mengusir semua hantu di rumahnya. Mulai  sekarang, ia bisa hidup dengan tenteram. Sekarang, Ragil sedang kencan dengan Mella. Tapi mereka hanya membicarakan tentang batu itu.

“Aku sudah menelitinya, tak ada keanehan apapun” Kata Ragil sambil meminum es kelapa muda

“Yah, mungkin kau hanya disuruh untuk menjaganya” Kata Mella yang dari tadi belum meminum es kelapa mudanya

“Iblis yang suka menyuruh orang, cih”

“Ganti pembicaraan, berapa hantu yang kau sudah bantu?” Tanya Mella pada Ragil

“Sama sekali tidak ada. Tidak ada yang minta tolong” Kata Ragil dengan wajah malas

“Kau bisa menawari mereka kan? Dengan begitu kau bisa mendapatkan kekuatan baru”
“Ah malas deh. Emang apa gunanya?”

“Misal membangkitkan orang mati?” Mella akhirnya meminum es kelapa mudanya
“Ah, apa mungkin? Ntar dikira orochimaru lagi…”

“Bego!! Gak mungkin lah! Emang kamu kira di dunia naruto?!”

“Jangan jangan batu itu adalah batu teleporter seperti di Sword Art Online?”. Dug! Mella menendang kaki Ragil. “Uh, sakit tau!”

“Makanya jangan banyak ngayal!” Mella tampak marah. “Sudahlah! Ayo cepat habiskan es mu, kita pergi jalan jalan”

“Ya…” Ragil lalu menghabiskan es kelapa mudanya dan keluar dari restoran tersebut. Mella membayar 2 es itu dan langsung mengikuti Ragil

Ragil dan Mella berjalan menyusuri kota Jakarta menggunakan motor Ragil. Kanan kiri semuanya bangunan besar, tidak ada sawah/yang lain.

“Eh, adikku masuk rumah sakit, bagaimana kalau kau ikut aku ke rumah sakit?” Tawar Ragil

“Boleh juga…” Mella setuju

Mereka lalu memutar arah menuju rumah sakit. Sekarang ia berada di daerah dekat kantor majalah tempat yang dulunya Mella berkerja. Mella tampak cuek dengan kantor itu, karena ia sudah punya tempat berkerja yang baru. 20 menit kemudian, mereka sampai ke rumah sakit. Ragil dan Mella langsung naik ke lantai 3 dan melihat Ana sedang berjalan menggunakan tongkat.

“Kakak!!” Ana lalu mendekati kakaknya itu

“Ana… Kau… Sudah bisa jalan?” Ragil menitikkan air mata

“Ya! Ana seneng banget!!” Ana memeluk Ragil. “Eh kak, itu siapa? Pacarnya kakak ya?”

“Eh… Eng… Enggak lah…” Mella berbicara tergagap gagap

“Cie… Ragil…” Papa dan Mamanya ikut menimpal

“Enggak kok… Kita Cuma temenan” Ragil mencoba menjelaskan

“Haha… bercanda kok kak…” Ana memeluk Ragil lebih erat

Ragil menghela napas lega. Ia lihat Mella yang wajahnya terlihat merah. Ragil lalu berbisik pada Mella.

“Kenapa semua hantu disini mengamatiku?” Tanya Ragil pada Mella

“Mereka tertarik pada auramu… Semua hantu disini sangat tertarik dengan auramu” Mella menjelaskan

“Begitu…”

Sebenarnya Ragil merasa tak enak dipandangi seperti ini, tapi yah, terpaksa. Ragil mencoba cuek dengan semua hantu di rumah sakit ini.

                                                                                                                               Bersambung
....

No comments:

Post a Comment