PART 4
Six Sense:
Dimension
Ragil dan Mella sampai di suatu
tempat yang gelap dan hanya ada 3 lilin yang membentuk lambang illuminati.
Ragil dan Mella duduk ditengah tengah illuminati itu. Tubuh mereka tak bisa
digerakkan, jika digerakkan mereka merasa seperti diikat lebih kencang.
“Fufu…
Selamat datang di duniaku” Kata seseorang yang membuat Ragil dan Mella
bertambah panik
“Si… Siapa k…
Kau?” Kata Mella yang terlihat takut
“Heh, apakah
kau tak ingat?” Suara itu membuat Mella gelagapan
“I… Iblis?”
Ragil berkata secara reflek
“Khu khu khu…
Bocah, kau pintar menebak”
“Apa… Apa
yang kau inginkan dariku?”
“Tak banyak…
Aku hanya ingin kau menyimpan ini” Kata iblis yang mulai terlihat tubuhnya. Wajahnya
sama seperti manusia biasa, tapi tubuhnya… Ular. Iblis itu mengambil sesuatu
dari mulutnya. “Ini, simpan ini… Jika hilang, kau akan tanggung akibatnya”
Iblis itu memberikan batu berlian berbentuk persegi panjang kepada Ragil
“Untuk apa
ini?” Tanya Ragil
“Kau bisa
menggunakannya untuk apa saja” Kata Iblis itu. “Dan kau…” Iblis itu menunjuk
Mella. “Jangan kau macam macam dengan dia” Mella tampak kaget mendengar kata
kata itu.
“Kalau
begitu, aku pergi. Sampai jumpa” Kata Iblis itu yang langsung menghilang dalam
kegelapan
Mella dan
Ragil dikeluarkan dari tempat itu. Mereka kembali ke tempat mereka semula yaitu
kantor majalah. Mella juga sekarang agak takut pada Ragil. Ragil mencoba
menenangkan dirinya dan Mella karena mereka habis mengalami hal yang diluar
akal sehat.
“Sudahlah,
tak usah dipikirkan” Kata Ragil pada Mella
“A… Aku
takut…” Mella yang tegang dari tadi akhirnya membuka mulut. “Eh…” Mella kaget
saat Ragil tiba tiba memeluknya
“Tak usah
takut, kita tak akan apa apa. Yang penting kita selamat”
“I… Iya…”
Mella mulai agak tenang
Setelah Mella tenang, Ragil
mengantar Mella pulang ke rumahnya. 10 menit kemudian mereka sampai di rumah
Mella.
“Bye!” Kata
Ragil pada Mella
“Yaa…” Mella
langsung berlari kerumahnya.
Ragil
berjalan menuju rumahnya. Ia langsung memarkir motornya di garasi dan masuk
kerumah. Ia lalu menyalakan TVnya dan merebahkan dirinya kesofa. Ia mengambil
batu berlian dari kantung celananya. “Ah apaan sih ini, ga jelas banget” Batin
Ragil. Ia amati batu itu , tak ada keanehan apa apa. “Ah, masa bodo” Ragil lalu
mengantongi lagi batu itu ke kantong celananya. Rumahnya kini dihuni oleh
banyak orang, Ragil bego mengira orang orang itu adalah suruhan temannya yang
benci padanya. Padahal mereka semua adalah hantu. Ragil sebodo gila sama
semuanya. Ia sungguh kesal hari ini, mulai dari dunia aneh milik iblis, sampai
orang orang di rumahnya. Ragil mematikan TVnya dan menuju ke lantai 2 dan
langsung tidur.
Dua hari
setelah kejadian itu, Ragil sudah tahu bahwa semua orang yang dilihatnya adalah
hantu karena sudah dijelaskan oleh Mella kemarin sore. Saat Ragil mengetahui
semuanya, ia langsung mengusir semua hantu di rumahnya. Mulai sekarang, ia bisa hidup dengan tenteram.
Sekarang, Ragil sedang kencan dengan Mella. Tapi mereka hanya membicarakan
tentang batu itu.
“Aku sudah menelitinya, tak ada keanehan apapun” Kata Ragil sambil
meminum es kelapa muda
“Yah, mungkin kau hanya disuruh untuk menjaganya” Kata Mella yang dari
tadi belum meminum es kelapa mudanya
“Iblis yang suka menyuruh orang, cih”
“Ganti pembicaraan, berapa hantu yang kau sudah bantu?” Tanya Mella pada
Ragil
“Sama sekali tidak ada. Tidak ada yang minta tolong” Kata Ragil dengan
wajah malas
“Kau bisa menawari mereka kan? Dengan begitu kau bisa mendapatkan
kekuatan baru”
“Ah malas deh. Emang apa gunanya?”
“Misal membangkitkan orang mati?” Mella akhirnya meminum es kelapa
mudanya
“Ah, apa mungkin? Ntar dikira orochimaru lagi…”
“Bego!! Gak mungkin lah! Emang kamu kira di dunia naruto?!”
“Jangan jangan batu itu adalah batu teleporter seperti di Sword Art
Online?”. Dug! Mella menendang kaki Ragil. “Uh, sakit tau!”
“Makanya jangan banyak ngayal!” Mella tampak marah. “Sudahlah! Ayo cepat
habiskan es mu, kita pergi jalan jalan”
“Ya…” Ragil lalu menghabiskan es kelapa mudanya dan keluar dari restoran
tersebut. Mella membayar 2 es itu dan langsung mengikuti Ragil
Ragil dan
Mella berjalan menyusuri kota Jakarta menggunakan motor Ragil. Kanan kiri
semuanya bangunan besar, tidak ada sawah/yang lain.
“Eh, adikku masuk rumah sakit, bagaimana kalau kau ikut aku ke rumah
sakit?” Tawar Ragil
“Boleh juga…” Mella setuju
Mereka lalu memutar arah menuju rumah sakit. Sekarang ia berada di daerah
dekat kantor majalah tempat yang dulunya Mella berkerja. Mella tampak cuek
dengan kantor itu, karena ia sudah punya tempat berkerja yang baru. 20 menit
kemudian, mereka sampai ke rumah sakit. Ragil dan Mella langsung naik ke lantai
3 dan melihat Ana sedang berjalan menggunakan tongkat.
“Kakak!!” Ana lalu mendekati kakaknya itu
“Ana… Kau… Sudah bisa jalan?” Ragil menitikkan air mata
“Ya! Ana seneng banget!!” Ana memeluk Ragil. “Eh kak, itu siapa? Pacarnya
kakak ya?”
“Eh… Eng… Enggak lah…” Mella berbicara tergagap gagap
“Cie… Ragil…” Papa dan Mamanya ikut menimpal
“Enggak kok… Kita Cuma temenan” Ragil mencoba menjelaskan
“Haha… bercanda kok kak…” Ana memeluk Ragil lebih erat
Ragil menghela napas lega. Ia lihat Mella yang wajahnya terlihat merah.
Ragil lalu berbisik pada Mella.
“Kenapa semua hantu disini mengamatiku?” Tanya Ragil pada Mella
“Mereka tertarik pada auramu… Semua hantu disini sangat tertarik dengan
auramu” Mella menjelaskan
“Begitu…”
Sebenarnya Ragil merasa tak enak dipandangi seperti ini, tapi yah,
terpaksa. Ragil mencoba cuek dengan semua hantu di rumah sakit ini.
Bersambung
....
No comments:
Post a Comment