Six Sense pending dulu
PART 1
Life
For Games: Hard Gamers!
Di malam hari yang telah larut, suara burung
hantu terdengar menghiasi keheningan malam ini. Semua orang berhenti
beraktivitas dan mengistirahatkan tubuhnya. Terkecuali remaja ini, serta adik
perempuannya. Mereka masih bermain game. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Adik perempuannya itu berusia 13 tahun. Adik perempuannya berdarah Jepang,
namun Kakaknya tidak. Mereka berdua lebih tepat dipanggil sepupu, bukan Kakak
Adik. Remaja itu berusia 19 tahun.
“Kak,
Aya udah capek...” Kata perempuan berdarah Jepang itu
“Lho?
Gimana sih? Kan tinggal berapa match lagi” Kata remaja bertubuh jangkung itu
“Tapi
Aya capek, Aya log out dulu ya?” Aya kemudian melog out gamenya dan mematikan
komputernya. “Terus, Kakak kapan ngebeliin Aya monitor baru? Kan Kakak udah
punya tiga screen, masa Aya cuma satu?”
“Ya,
Kak Ragil kan Cuma punya duit pas pasan, ntar kalo ada turnamen game, pasti
Kakak beliin deh”
“Janji?”
Ragil
mengangguk, ia kemudian melog out juga gamenya dan mematikan komputernya.
“Kenapa
dimatiin? Bukannya masih ada satu match lagi?” Tanya Aya bingung
“Matchnya
diundur besok katanya”
“Oh...”
Ragil
kemudian membanting dirinya kekasurnya. Aya juga keluar dan menuju kamarnya.
Dug dug dug! Tiba tiba pintu rumahnya digedor oleh seseorang. “Siapa sih,
bertamu malem malem gini” Batin Ragil kesal. Ragil kemudian melompat dari
tempat tidurnya dan menuju kepintu depan. Sesampainya disana, saat ia membuka
pintu, tidak ada orang. Namun, ada sekotak paket yang ditinggalkan oleh seseorang.
“Paket? Dari siapa?” Pikirnya, ia kemudian melihat keluar dan tidak mendapati
siapapun. Ragil kemudian masuk kedalam dan langsung menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar, ia langsung membuka paket misterius tadi.
“Dari
??? tempat tinggal ??? tujuan rumahku?”. Ragil kemudian membuka paket tadi dan
menemukan 2 kaset game. Ragil kemudian memanggil Aya, beruntung Aya belum
tidur. “Nih liat...” Ragil menyodorkan kaset itu ke Aya
“Kaset
game horror? Kayanya seru tuh...” Komentar Aya sambil tersenyum. “Tapi kok Aya
belum pernah liat game judulnya ini ya? Masa namanya Deadly Maze?”
“Horror,
Role Playing, Multiplayer. Menarik...”. “Ayo install aja dulu, baru tidur...”
“Eh,
gak dibaca suratnya?”
“Mana?”
“Itu”
Aya menunjuk didalam paket yang dibawa Ragil. Ragil kemudian membuka surat itu.
“Mungkin
ini hanya game, tapi jangan dianggap remeh? Huh, bodo amat”. Ragil kemudian
menyalakan kembali komputernya dan Aya melakukan hal yang sama pula. Ia
kemudian memasukkan kaset itu kedalam komputernya dan menginstallnya.
“Kak, kok cepet banget installnya?” Tanya Aya
“Gak
tau, Kakak juga bingung”. “Udahlah, langsung kita main aja”
Aya
mengangguk, mereka berdua kemudian membuka gamenya. Seketika, saat mereka
membuka game itu, tubuh mereka serasa melayang entah kemana lalu pingsan.
Ragil dan Aya kemudian terbangun
disuatu tempat tak tahu dimana, yang ada hanya gelap gulita. “Tempat apa ini?
Mimpikah?” Batin Ragil sambil menepuk pipinya. “Bukan... Sakit”.
“Dimana
ini Kak?” Kata Aya takut sambil memeluk Ragil
“Kakak
juga nggak tahu...”. Tiba tiba didepan mereka muncul tulisan ‘Welcome to Deadly Maze’.
“Kak,
mungkinkah...”
“Kita
didunia game?”
Ragil
kemudian mengklik tombol select. Lalu
tulisan itu berubah menjadi Please Wait.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai didaerah kota. Mereka tidak sendiri,
melainkan ada banyak orang disitu. Sekitar 20.000 orang.
“Hei!
Ada pendatang baru!” Kata orang berbadan kekar sambil menunjuk Ragil dan Aya
“Pendatang?”
Tanya Ragil dalam hati
“Hoho...
Selamat datang di game kematian ini...” Tiba tiba dibelakang mereka muncul
seorang kakek kakek bertongkat mendatangi mereka
“Game...
Kematian?”
“Biar
kujelaskan sedikit, mari ikut aku...”
Orang
tua itu menjentikkan jarinya, tiba tiba mereka berpindah tempat. Ragil dan Aya
kini berada di dalam terowongan bawah tanah sambil menaiki kereta.
“Ini
adalah map dari Deadly Maze...” Kata Orang tua sambil itu menunjuk tembok bergambar
seluruh tempat di game itu. “Disini dibagi dibeberapa tempat, yaitu kota pertama,
kota kedua, kota ketiga, kota keempat, kota kelima, kota keenam, kota ketujuh,
kota kedelapan, kota kesembilan dan kota kesepuluh. Semuanya bebas kalian
jelajahi. Namun, akan banyak monster dan hantu yang berkeliaran. Selain kota,
ada juga hutan. Kalian bisa mendapatkan Rare
items jika kalian membunuh monster atau hantu kuat disitu. Oh ya, selain
itu ada juga iblis. Beberapa bos juga ada disetiap sudut tanpa diduga”
“Game
macam apa ini?” Batin Aya
“Sekarang,
penjelasan selanjutnya” Kereta yang dinaiki mereka bergeser. “Ini adalah
senjata yang bisa kalian dapat”. “Tersedia Pedang, sihir dan kalau kalian
beruntung, kalian dapat terbang”
“Pedang
ya? Sihir?... Menarik...” Pikir Ragil. “Lalu bagaimana cara keluar dari sini?”.
Glek! Kereta mereka bergeser lagi
“Jika
kau ingin keluar dari dunia ini, minimal hari ini kau membunuh kurang lebih
sepuluh monster atau hantu atau iblis disini. Atau kau juga bisa dengan cara
melawan bos. Tapi, saat kau didunia nyata hanya bertahan sekitar 3 jam, lalu
kau akan kembali lagi kesini. Tenang saja, waktu diduniamu dan didunia ini
berbeda. 1 detik didunia nyata sama dengan 1 jam disini”. “Dan game ini juga
dibagi menjadi beberapa ras, yaitu ras hitam, kuning, merah, biru dan hijau.
Kalian berdua bisa memilih salah satu”
“Lalu,
bagaimana dengan equipment yang bisa
didapat atau dibeli?” Tanya Aya. Lagi lagi kereta mereka bergeser lagi, tapi
kali ini cukup jauh. Didepan mereka ada gambar NPC sedang berinteraksi dengan
player
“Equipment atau barang barang bisa kau
dapatkan dari mengalahkan monster seperti yang kubilang tadi dan mengalahkan
bos. Atau kau bisa beli dari NPC yang berjualan. Seperti armor atau yang lain.
Senjata juga bisa”
“Lalu,
jika kalah melawan bos atau monster?”
“Disini
dan didunia nyata, kau akan mati”. Ragil dan Aya terbelalak kaget
“Mati...
Sungguhan maksudmu?”
“Benar...”
Ragil tertegun sebentar, keringat dingin membasahi tubuhnya. “Baiklah, itu guide yang dapat aku sampaikan” Orang
tua itu menjentikkan jarinya lalu mereka berpindah ketempat semula. “Selamat
tinggal, Have a nice day” Orang tua
itu menghilang
Ragil
dan Aya masih bengong. Jika mereka mati disini, maka didunia nyata mereka juga
mati. “Kenapa... Aku membuka game itu...” Batin Ragil kesal.
“Tenang
saja, kau tidak sendiri. Masih ada kami semua” Tiba tiba pria berbadan kekar
tadi menghampiri mereka. “Kenalkan, aku Erland”
“Eh...
Aku... Ragil... dan ini... Aya...” Jawab Ragil ketakutan
“Kenapa
kau ketakutan? Kau tidak sendiri di game kematian ini...”
“Kenapa
kau sebegitu santainya?”
Erland
menghela napas. “Jika kau menikmati game ini, kau akan terbiasa” Kata Erland
sambil pergi dari Ragil
“Tunggu!”
Teriak Ragil. “Apa rasmu?!”
“Ras
hitam”
“Hitam...
Baiklah, aku juga akan memilih ras hitam...” Gumam Ragil. “Baiklah Aya, ayo
jangan takut. Kita taklukan game ini...” Ragil membantu Aya yang tadi terduduk
lemas
“Eng...
Baiklah Kak...”
Bersambung
....
No comments:
Post a Comment