Find a other post

Thursday, September 10, 2015

Life For Games



Six Sense pending dulu
 PART 1
Life For Games: Hard Gamers!
             Di malam hari yang telah larut, suara burung hantu terdengar menghiasi keheningan malam ini. Semua orang berhenti beraktivitas dan mengistirahatkan tubuhnya. Terkecuali remaja ini, serta adik perempuannya. Mereka masih bermain game. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Adik perempuannya itu berusia 13 tahun. Adik perempuannya berdarah Jepang, namun Kakaknya tidak. Mereka berdua lebih tepat dipanggil sepupu, bukan Kakak Adik. Remaja itu berusia 19 tahun.

“Kak, Aya udah capek...” Kata perempuan berdarah Jepang itu
“Lho? Gimana sih? Kan tinggal berapa match lagi” Kata remaja bertubuh jangkung itu
“Tapi Aya capek, Aya log out dulu ya?” Aya kemudian melog out gamenya dan mematikan komputernya. “Terus, Kakak kapan ngebeliin Aya monitor baru? Kan Kakak udah punya tiga screen, masa Aya cuma satu?”
“Ya, Kak Ragil kan Cuma punya duit pas pasan, ntar kalo ada turnamen game, pasti Kakak beliin deh”
“Janji?”

Ragil mengangguk, ia kemudian melog out juga gamenya dan mematikan komputernya.

“Kenapa dimatiin? Bukannya masih ada satu match lagi?” Tanya Aya bingung
“Matchnya diundur besok katanya”
“Oh...”

Ragil kemudian membanting dirinya kekasurnya. Aya juga keluar dan menuju kamarnya. Dug dug dug! Tiba tiba pintu rumahnya digedor oleh seseorang. “Siapa sih, bertamu malem malem gini” Batin Ragil kesal. Ragil kemudian melompat dari tempat tidurnya dan menuju kepintu depan. Sesampainya disana, saat ia membuka pintu, tidak ada orang. Namun, ada sekotak paket yang ditinggalkan oleh seseorang. “Paket? Dari siapa?” Pikirnya, ia kemudian melihat keluar dan tidak mendapati siapapun. Ragil kemudian masuk kedalam dan langsung menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, ia langsung membuka paket misterius tadi.

“Dari ??? tempat tinggal ??? tujuan rumahku?”. Ragil kemudian membuka paket tadi dan menemukan 2 kaset game. Ragil kemudian memanggil Aya, beruntung Aya belum tidur. “Nih liat...” Ragil menyodorkan kaset itu ke Aya
“Kaset game horror? Kayanya seru tuh...” Komentar Aya sambil tersenyum. “Tapi kok Aya belum pernah liat game judulnya ini ya? Masa namanya Deadly Maze?”
“Horror, Role Playing, Multiplayer. Menarik...”. “Ayo install aja dulu, baru tidur...”
“Eh, gak dibaca suratnya?”
“Mana?”
“Itu” Aya menunjuk didalam paket yang dibawa Ragil. Ragil kemudian membuka surat itu.
“Mungkin ini hanya game, tapi jangan dianggap remeh? Huh, bodo amat”. Ragil kemudian menyalakan kembali komputernya dan Aya melakukan hal yang sama pula. Ia kemudian memasukkan kaset itu kedalam komputernya dan menginstallnya.
 “Kak, kok cepet banget installnya?” Tanya Aya
“Gak tau, Kakak juga bingung”. “Udahlah, langsung kita main aja”

Aya mengangguk, mereka berdua kemudian membuka gamenya. Seketika, saat mereka membuka game itu, tubuh mereka serasa melayang entah kemana lalu pingsan.
            Ragil dan Aya kemudian terbangun disuatu tempat tak tahu dimana, yang ada hanya gelap gulita. “Tempat apa ini? Mimpikah?” Batin Ragil sambil menepuk pipinya. “Bukan... Sakit”.

“Dimana ini Kak?” Kata Aya takut sambil memeluk Ragil
“Kakak juga nggak tahu...”. Tiba tiba didepan mereka muncul tulisan ‘Welcome to Deadly Maze’.
 “Kak, mungkinkah...”
“Kita didunia game?”

Ragil kemudian mengklik tombol select. Lalu tulisan itu berubah menjadi Please Wait. Beberapa menit kemudian, mereka sampai didaerah kota. Mereka tidak sendiri, melainkan ada banyak orang disitu. Sekitar 20.000 orang.

“Hei! Ada pendatang baru!” Kata orang berbadan kekar sambil menunjuk Ragil dan Aya
“Pendatang?” Tanya Ragil dalam hati
“Hoho... Selamat datang di game kematian ini...” Tiba tiba dibelakang mereka muncul seorang kakek kakek bertongkat mendatangi mereka
“Game... Kematian?”
“Biar kujelaskan sedikit, mari ikut aku...”

Orang tua itu menjentikkan jarinya, tiba tiba mereka berpindah tempat. Ragil dan Aya kini berada di dalam terowongan bawah tanah sambil menaiki kereta.

“Ini adalah map dari Deadly Maze...” Kata Orang tua sambil itu menunjuk tembok bergambar seluruh tempat di game itu. “Disini dibagi dibeberapa tempat, yaitu kota pertama, kota kedua, kota ketiga, kota keempat, kota kelima, kota keenam, kota ketujuh, kota kedelapan, kota kesembilan dan kota kesepuluh. Semuanya bebas kalian jelajahi. Namun, akan banyak monster dan hantu yang berkeliaran. Selain kota, ada juga hutan. Kalian bisa mendapatkan Rare items jika kalian membunuh monster atau hantu kuat disitu. Oh ya, selain itu ada juga iblis. Beberapa bos juga ada disetiap sudut tanpa diduga”
“Game macam apa ini?” Batin Aya
“Sekarang, penjelasan selanjutnya” Kereta yang dinaiki mereka bergeser. “Ini adalah senjata yang bisa kalian dapat”. “Tersedia Pedang, sihir dan kalau kalian beruntung, kalian dapat terbang”
“Pedang ya? Sihir?... Menarik...” Pikir Ragil. “Lalu bagaimana cara keluar dari sini?”. Glek! Kereta mereka bergeser lagi
“Jika kau ingin keluar dari dunia ini, minimal hari ini kau membunuh kurang lebih sepuluh monster atau hantu atau iblis disini. Atau kau juga bisa dengan cara melawan bos. Tapi, saat kau didunia nyata hanya bertahan sekitar 3 jam, lalu kau akan kembali lagi kesini. Tenang saja, waktu diduniamu dan didunia ini berbeda. 1 detik didunia nyata sama dengan 1 jam disini”. “Dan game ini juga dibagi menjadi beberapa ras, yaitu ras hitam, kuning, merah, biru dan hijau. Kalian berdua bisa memilih salah satu”
“Lalu, bagaimana dengan equipment yang bisa didapat atau dibeli?” Tanya Aya. Lagi lagi kereta mereka bergeser lagi, tapi kali ini cukup jauh. Didepan mereka ada gambar NPC sedang berinteraksi dengan player
Equipment atau barang barang bisa kau dapatkan dari mengalahkan monster seperti yang kubilang tadi dan mengalahkan bos. Atau kau bisa beli dari NPC yang berjualan. Seperti armor atau yang lain. Senjata juga bisa”
“Lalu, jika kalah melawan bos atau monster?”
“Disini dan didunia nyata, kau akan mati”. Ragil dan Aya terbelalak kaget
“Mati... Sungguhan maksudmu?”
“Benar...” Ragil tertegun sebentar, keringat dingin membasahi tubuhnya. “Baiklah, itu guide yang dapat aku sampaikan” Orang tua itu menjentikkan jarinya lalu mereka berpindah ketempat semula. “Selamat tinggal, Have a nice day” Orang tua itu menghilang

Ragil dan Aya masih bengong. Jika mereka mati disini, maka didunia nyata mereka juga mati. “Kenapa... Aku membuka game itu...” Batin Ragil kesal.

“Tenang saja, kau tidak sendiri. Masih ada kami semua” Tiba tiba pria berbadan kekar tadi menghampiri mereka. “Kenalkan, aku Erland”
“Eh... Aku... Ragil... dan ini... Aya...” Jawab Ragil ketakutan
“Kenapa kau ketakutan? Kau tidak sendiri di game kematian ini...”
“Kenapa kau sebegitu santainya?”
Erland menghela napas. “Jika kau menikmati game ini, kau akan terbiasa” Kata Erland sambil pergi dari Ragil
“Tunggu!” Teriak Ragil. “Apa rasmu?!”
“Ras hitam”
“Hitam... Baiklah, aku juga akan memilih ras hitam...” Gumam Ragil. “Baiklah Aya, ayo jangan takut. Kita taklukan game ini...” Ragil membantu Aya yang tadi terduduk lemas
“Eng... Baiklah Kak...”
                                                                                                        Bersambung
....

No comments:

Post a Comment