Ini aja dulu
PART 7
Six Sense: School
“Eh, Kakak sama Kak Mella” Sapa Ana
sambil tersenyum
“Ayo masuk dulu” Kata Ibu Ragil
mempersilahkan mereka masuk
Mella dan Ragil masuk sambil menatap
tajam kearah orang itu. Orang itu tersenyum seakan mengejek Ragil dan Mella.
“Iblis brengsek, mau apa dia kesini” Batin Ragil kesal. Ia lalu duduk di
sebelah Ana, Mella mengikuti Ragil.
“Perkenalkan, nama saya Martin” Orang
itu memperkenalkan dirinya dengan sopan
“Huh, jangan sok sopan kau” Jawab
Ragil
“Ragil! Apa apaan kamu! Yang sopan!”
Ibu Ragil tampak marah
“Orang seperti itu tak usah di sambut
dengan sopan, dasar si brengsek”
“Ragil!!” Ayah Ragil mulai emosi
“Tante, om. Sebenarnya orang ini
adalah…” Sebelum Mella selesai bicara, mulut Mella tak bisa melanjutkan kata
katanya. Mella tampak seperti orang bisu
“Apa yang kau lakukan! Dasar iblis brengsek!!”
Ragil membanting gelas milik Ayahnya lalu melemparkan serpihan kaca itu ke arah
iblis itu. Clakk! Serpihan itu mengenai mata iblis itu. Perlahan lahan iblis
itu menjadi ular berkepala manusia lagi dan membuat Ayah, ibu dan adik Ragil
yaitu Ana menjadi terkejut
“Sial! Aku terlambat menghindar! Aku
harus membetulkan portalnya!” Iblis itu kemudian menghilang. Mulut Mella
kemudian kembali seperti semula
“Mel, kau… Tak apa?” Tanya Ragil
khawatir
“Sehat walafiat! Udah tau habis
gabisa ngomong! Malah ditanyain kaya gitu!” Kata Mella kesal
“Ya, maaf lah… Tapi kan udah sehat
lagi kan?” Ragil mengusap kepala Mella
“Iya sih…” Mella tampak senang
“Ehmm…” Ayah Ragil ikut ngobrol
“Eeh, iy… Iya yah, apa?”
“Tadi… Yang Mella maksud orang itu
iblis?”
“Begitulah Om, Mella sama Ragil
sering ketemu” Mella keceplosan
“Apa maksudmu?”
“Eng… Enggak apa apa kok yah, ya udah
ya. Ragil sama Mella pamit” Kata Ragil sambil menarik Mella. Sampai diluar,
Ragil menghela napas lega. “Hadeehh… Mell, Mell. Hampir aja”
“Ehehhe… Maaf deh…” Mella menggaruk
kepalanya
“Ya udah, ayo langsung pulang”
Mella mengangguk. Mereka lalu naik ke
motor Ragil dan menuju rumah Ragil.
Ragil dan Mella di dalam perjalanan
menuju rumah Ragil banyak ngobrol tentang iblis itu. Mella teringat tentang
batu yang diberikan iblis itu.
“Eh, gimana batu yang dikasih sama
iblis itu?” Tanya Mella
“Dirumah” Jawab Ragil malas
“Kenapa kau tinggal?”
“Ga ada gunanya dibawa, emang apa untungnya?”
“Bisa dijual mungkin” Kata Mella
sambil tertawa
“Hahaha, benar juga” Ragil ikut
tertawa. “Eh, aku harus pulang cepat”
“Kenapa?” Mella heran
“Kan 2 hari lagi masuk, PR ku banyak.
Ada Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia. Ah, pokoknya banyak”
“Mau aku bantu?”
“Emang kamu bisa?”
“Bisa dong, jangan ngeremehin aku”
Balas Mella tersenyum
Ragil senang ada yang membantunya, ia
berharap PR nya cepat selesai agar tidak disuruh mengepel kamar mandi di
sekolahnya.
Sampai di rumah Ragil, Mella dan
Ragil masuk ke rumah Ragil. Mella kaget melihat rumah Ragil. “Ini rumah atau
sarang tikus… Berantakan” Batin Mella. Rumah Ragil semuanya berantakan, tak
teratur.
“Ragil, kenapa kau betah di rumah
seperti ini?” Tanya Mella heran
“Kenapa?”
“Lihat sekelilingmu” Mella menunjuk
ke kanan. Ragil melihat sofanya tidak rapi, piring belum dicuci, kulkas masih
terbuka, sarang laba laba dipojok rumah.
“Ah, ga peduli. Males mau nyuci
piring, bersih bersih, capek deh” Kata Ragil sambil menuju kamarnya di lantai 2
Mella hanya bisa geleng kepala
melihat Ragil yang malas. “Mungkin aku bisa membersihkannya, aku kan hampir
jadi pac… Eh” Mella menepuk pipinya. “Jangan banyak ngayal Mel! Ayo bantu
Ragil!” Batin Mella. Mella lalu berjalan ke dapur dan mencuci piring yang
besarnya seperti gunung Krakatau. Selesai mencuci, Mella lalu mengambil sapu
dan membersihkan lantai lalu membereskan sofa dan TV yang tak tertata. 15 menit
kemudian, Ragil menuju ke bawah dengan membawa buku buku pelajaran yang harus
diselesaikan, ia lihat rumahnya lebih bersih dan tertata dari yang kemarin. Mella
sedang duduk di sofanya sambil menonton TV.
“Mel, kamu… Yang membersihkannya?”
Tanya Ragil setelah meletakkan buku bukunya ke atas meja
“Iya” Kata Mella dan langsung
berdiri. “Masa ada sarang laba laba di rumah, piring juga ga dicuci” Mella
berkacak pinggang
“Laba laba itu sebenarnya emang aku
biarkan disana”
“Kenapa?” Tanya Mella heran
“Laba laba itu tidak mengganggu
manusia, ia hanya numpang tinggal. Kenapa dibunuh? Justru manusialah yang
mengganggu mereka. Jika bertemu tarantula, malah bisa di budidayakan. Lumayan
dapat untung 500 ribu – 2 juta” Jawab Ragil malas sambil menuju dapur untuk
membuat minuman
Mella terdiam setelah mendengar kata
kata Ragil. “Benar juga, laba laba itu tidak mengganggu…” Batin Mella. Ia lalu
kembali duduk di sofa sambil menonton TV.
2 hari kemudian, di pagi hari Ragil
terbangun dengan wajah malasnya, tidak seperti yang kemarin. Kali ini sungguh
tak bersemangat. Yah, Ragil sudah masuk sekolah, ia berjalan menuruni tangga
dengan langkah berat seperti dia mengangkat batu seberat 320 ton. Ia lalu
mandi, sarapan dan menjemput Mella, Mella sudah menunggu di depan rumah Mella.
Kemarin, Mella memberitahu Ragil bahwa ia akan pindah ke sekolahnya. Mella
tampak agak berdandan hari ini, roknya sedikit di atas lutut.
“Duh, lama banget sih! Liat udah jam
berapa!” Kata Mella sambil memperlihatkan smartphonenya yang waktunya sudah
menunjukkan pukul 06.30. “Katanya mau jemput jam 6!”
“Maaf, tadi kesiangan. Aku bangun jam
setengah 6 tadi”
“Ya udah! Ayo cepet berangkat! Nanti
kebagian tempat duduk depan lagi!” Mella naik motor Ragil
“Kan gapapa, yang penting kita duduk
sebangku” Kata Ragil dengan nada menggoda
“Ih, siapa juga yang mau duduk sama
kamu!” Mella menepuk punggung Ragil. “Benar juga sih” Gumam Mella senang
“Ngomong apa tadi?” Ragil tak
mendengarnya
“Cuma ngomong sendiri, udah, ayo
cepet berangkat!”
Ragil lalu melaju menuju sekolahnya.
Di jalan, Mella banyak bertanya mengenai sekolahnya, Ragil memberitahu sedetail
detailnya tentang sekolahnya, dari kelasnya, guru, sampai kamar mandinya yang
tak terawat. 5 menit kemudian, mereka sampai di sekolahnya. “Ngg… 11A mana ya?”
Batin Ragil yang masuk ke sekolahnya diikuti Mella.
“Eh gil! Lama ga ketemu!” Sapa teman
Ragil yang berpapasan dengannya saat ingin mencari kelasnya. Orang itu lalu
mendekati Ragil. “Btw, siapa tuh cewe? Cakep bener…” Komentarnya saat melihat
Mella yang sedang membetulkan rambutnya.
“Lu emang ga berubah, ini Mella” Kata
Ragil sambil memperkenalkan Mella. “Dia baru pindah kesini”
“Hai, aku Mella” Sapa Mella sambil
tersenyum
“Ha… Hai, aku Rafi! Single! sedang
mencari…” Bugg!! Belum selesai bicara, Ragil menginjak kaki Rafi. “Aduduh!!”
“Ayo!” Ragil menarik Mella
Mella mengangguk, ia lalu mengikuti Ragil mencari
kelasnya. Akhirnya mereka menemukannya. Mereka lalu masuk. Beruntung, semua
tempat duduk di depan sudah penuh, tinggal 1 tempat duduk di deret ke 3 paling
pojok. Di kelas ini ada 5 deret meja ke belakang, sedangkan ke pinggir ada 6
baris. Ragil dan Mella lalu menuju ke tempat duduk itu dan meletakkan tasnya.
“Mau ke kantin?” Tawar Ragil.
“Sekalian kamu liat liat sekolah ini kaya gimana”
“Boleh…” Mella setuju
Mereka lalu menuju kantin. Di dalam
perjalanan, banyak orang yang mengamati Mella dan Ragil, Tak terkecuali para
hantu. Tapi, hanya laki laki yang mengamati mereka. Sesampainya di kantin, laki
laki masih mengamati mereka berdua. “Ni orang orang ngapain sih” Batin Ragil
kesal. Ragil dan Mella memilih tempat yang paling pojok.
“Aku merasa tak enak…” Kata Mella
tiba tiba
“Apa maksudmu?”
“Lihatlah sekelilingmu, semuanya
mengamati kita”
“Cuek saja” Kata Ragil yang langsung
memesan makanan. “Bu, bakso 2 pake sambel super pedas!!”
“Eeh, aku ga suka pedas! Yang 1 ga
pedas bu!” Teriak Mella. “Kamu asal nyrocos saja!”
“Aku kira kamu suka pedas, hehehe…”
“Eh Gil, lama ga ketemu!” Sapa
seseorang lagi. Dan pertanyaan yang di tanyakan sama dengan Rafi. “Siapa tuh
cewe Gil, manis juga…”
“Ini Mella, dia baru pindah hari ini”
“Hai, aku Mella…” Sapa Mella
“Hai juga… Namaku Aldi…” Orang itu
duduk di sebelah Ragil
“Sampai lu njelasin kalo lu single,
gw tonjok lu” Bisik Ragil geram
“Santai bro!” Kata Aldi dengan wajah
agak takut
“Kenapa bisik bisik?” Mella dari tadi
memperhatikan mereka
“Enggak kok, ga papa” Kata Ragil
sambil tersenyum. Tak lama kemudian, ibu kantin datang membawa 2 bakso dan 1
jus melon
“Kau pesan jus?” Tanya Ragil pada
Aldi
“Yah, begitulah”
Ibu kantin lalu menaruh makanan dan
minumannya yang dipesan mereka. Tanpa basa basi, Ragil langsung menyantapnya
hingga wajahnya penuh dengan mie seperti anak kecil.
“Duh, kaya anak kecil aja. Pelan
pelan” Kata Mella sambil mengusap mie yang ada di wajah Ragil dengan tisu
“Iya iya…” Ragil tampak senang
“Ehmm…” Aldi tampak tak senang karena
dikacangin
“Kenapa? Dikacangin yee??” Tiba tiba
Rafi datang membuat Ragil, Mella dan Aldi terkejut
“Sialan, mereka kaya gitu, gw
dikacangin” Kata Aldi lesu
“Nah, rasain. Makanya jadi orang
jangan jomblo!” Rafi tertawa
“Lu juga jomblo kan?” Bisik Ragil
sambil tersenyum
“Sst, diem aja…”
“Nah, lu juga jomblo kan!” Aldi
meledek Rafi
“Gw bukan jomblo tau!”
“Terus apaan?! Hahaha!”
“Tuna asmara doang!”
“Itu sama aja!”
Ragil hanya geleng geleng kepala
melihat tingkah mereka.
Mella dan Ragil sudah selesai makan,
Mella melihat smartphonenya sudah menunjukkan pukul 06.55.
“Eh, udah jam 7 kurang 5 menit! Ayo
masuk kelas!” Kata Mella sambil menarik tangan Ragil keluar dari kantin
“Iya iya…” Ragil mengikuti Mella menuju
kelasnya
Sesampainya di kelas, mereka semua
mengamati Ragil dan Mella. Ragil mah cuek bebek aja, ia tetap berjalan menuju
tempat duduknya. Hanya saja, Mella yang dari tadi merasa tak enak di amati
seperti ini. Ia berjalan disebelah Ragil dengan wajah tegang. Sampai di tempat
duduknya, Ragil langsung molor dan Mella bermain smartphonenya. Kriinngg! Tanda
bel masuk berbunyi, semua duduk di tempatnya masing masing. Pelajaran pertama,
matematika. Bapak guru masuk ke kelasnya.
“Selamat pagi anak anak” Sapa guru
itu ramah
“Selamat pagi pak guru!” Jawab semua
siswa serentak
“Mulai hari ini, kita mendapat siswi
baru. Nah, sekarang, kau majulah” Guru itu menunjuk Mella. Mella tampak gugup
“Santai saja, kalem. Coba kamu maju
terus jelasin siapa kamu” Ragil yang sudah bangun karena kaget akan suara
serentak anak anak kelas
“Baiklah…” Mella maju dengan langkah
malu malu. Sampai di depan, Mella menjelaskan data dirinya.
“Adakah seseorang yang kamu kenal di
kelas ini?” Tanya guru itu
“Ada, orang itu duduk di sebelah
saya” Mella melirik Ragil yang sedang menatap ke luar jendela
“Ragil?”
“Benar pak…” Semua isi kelas menatap
Ragil. Ragil tak peduli dengan teman teman kelasnya. Ia ingin segera istirahat
dan pulang ke rumahnya.
Bersambung
....
No comments:
Post a Comment