Find a other post

Tuesday, September 1, 2015

Six Sense



Ini aja dulu

PART 7
Six Sense: School

“Eh, Kakak sama Kak Mella” Sapa Ana sambil tersenyum

“Ayo masuk dulu” Kata Ibu Ragil mempersilahkan mereka masuk

Mella dan Ragil masuk sambil menatap tajam kearah orang itu. Orang itu tersenyum seakan mengejek Ragil dan Mella. “Iblis brengsek, mau apa dia kesini” Batin Ragil kesal. Ia lalu duduk di sebelah Ana, Mella mengikuti Ragil.

“Perkenalkan, nama saya Martin” Orang itu memperkenalkan dirinya dengan sopan

“Huh, jangan sok sopan kau” Jawab Ragil

“Ragil! Apa apaan kamu! Yang sopan!” Ibu Ragil tampak marah

“Orang seperti itu tak usah di sambut dengan sopan, dasar si brengsek”

“Ragil!!” Ayah Ragil mulai emosi

“Tante, om. Sebenarnya orang ini adalah…” Sebelum Mella selesai bicara, mulut Mella tak bisa melanjutkan kata katanya. Mella tampak seperti orang bisu

“Apa yang kau lakukan! Dasar iblis brengsek!!” Ragil membanting gelas milik Ayahnya lalu melemparkan serpihan kaca itu ke arah iblis itu. Clakk! Serpihan itu mengenai mata iblis itu. Perlahan lahan iblis itu menjadi ular berkepala manusia lagi dan membuat Ayah, ibu dan adik Ragil yaitu Ana menjadi terkejut

“Sial! Aku terlambat menghindar! Aku harus membetulkan portalnya!” Iblis itu kemudian menghilang. Mulut Mella kemudian kembali seperti semula

“Mel, kau… Tak apa?” Tanya Ragil khawatir

“Sehat walafiat! Udah tau habis gabisa ngomong! Malah ditanyain kaya gitu!” Kata Mella kesal

“Ya, maaf lah… Tapi kan udah sehat lagi kan?” Ragil mengusap kepala Mella

“Iya sih…” Mella tampak senang

“Ehmm…” Ayah Ragil ikut ngobrol

“Eeh, iy… Iya yah, apa?”

“Tadi… Yang Mella maksud orang itu iblis?”

“Begitulah Om, Mella sama Ragil sering ketemu” Mella keceplosan

“Apa maksudmu?”

“Eng… Enggak apa apa kok yah, ya udah ya. Ragil sama Mella pamit” Kata Ragil sambil menarik Mella. Sampai diluar, Ragil menghela napas lega. “Hadeehh… Mell, Mell. Hampir aja”

“Ehehhe… Maaf deh…” Mella menggaruk kepalanya

“Ya udah, ayo langsung pulang”

Mella mengangguk. Mereka lalu naik ke motor Ragil dan menuju rumah Ragil.

Ragil dan Mella di dalam perjalanan menuju rumah Ragil banyak ngobrol tentang iblis itu. Mella teringat tentang batu yang diberikan iblis itu.

“Eh, gimana batu yang dikasih sama iblis itu?” Tanya Mella

“Dirumah” Jawab Ragil malas

“Kenapa kau tinggal?”

“Ga ada gunanya dibawa, emang apa untungnya?”

“Bisa dijual mungkin” Kata Mella sambil tertawa

“Hahaha, benar juga” Ragil ikut tertawa. “Eh, aku harus pulang cepat”

“Kenapa?” Mella heran

“Kan 2 hari lagi masuk, PR ku banyak. Ada Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia. Ah, pokoknya banyak”

“Mau aku bantu?”

“Emang kamu bisa?”

“Bisa dong, jangan ngeremehin aku” Balas Mella tersenyum

Ragil senang ada yang membantunya, ia berharap PR nya cepat selesai agar tidak disuruh mengepel kamar mandi di sekolahnya.

Sampai di rumah Ragil, Mella dan Ragil masuk ke rumah Ragil. Mella kaget melihat rumah Ragil. “Ini rumah atau sarang tikus… Berantakan” Batin Mella. Rumah Ragil semuanya berantakan, tak teratur.

“Ragil, kenapa kau betah di rumah seperti ini?” Tanya Mella heran

“Kenapa?”

“Lihat sekelilingmu” Mella menunjuk ke kanan. Ragil melihat sofanya tidak rapi, piring belum dicuci, kulkas masih terbuka, sarang laba laba dipojok rumah.

“Ah, ga peduli. Males mau nyuci piring, bersih bersih, capek deh” Kata Ragil sambil menuju kamarnya di lantai 2

Mella hanya bisa geleng kepala melihat Ragil yang malas. “Mungkin aku bisa membersihkannya, aku kan hampir jadi pac… Eh” Mella menepuk pipinya. “Jangan banyak ngayal Mel! Ayo bantu Ragil!” Batin Mella. Mella lalu berjalan ke dapur dan mencuci piring yang besarnya seperti gunung Krakatau. Selesai mencuci, Mella lalu mengambil sapu dan membersihkan lantai lalu membereskan sofa dan TV yang tak tertata. 15 menit kemudian, Ragil menuju ke bawah dengan membawa buku buku pelajaran yang harus diselesaikan, ia lihat rumahnya lebih bersih dan tertata dari yang kemarin. Mella sedang duduk di sofanya sambil menonton TV.

“Mel, kamu… Yang membersihkannya?” Tanya Ragil setelah meletakkan buku bukunya ke atas meja

“Iya” Kata Mella dan langsung berdiri. “Masa ada sarang laba laba di rumah, piring juga ga dicuci” Mella berkacak pinggang

“Laba laba itu sebenarnya emang aku biarkan disana”

“Kenapa?” Tanya Mella heran

“Laba laba itu tidak mengganggu manusia, ia hanya numpang tinggal. Kenapa dibunuh? Justru manusialah yang mengganggu mereka. Jika bertemu tarantula, malah bisa di budidayakan. Lumayan dapat untung 500 ribu – 2 juta” Jawab Ragil malas sambil menuju dapur untuk membuat minuman

Mella terdiam setelah mendengar kata kata Ragil. “Benar juga, laba laba itu tidak mengganggu…” Batin Mella. Ia lalu kembali duduk di sofa sambil menonton TV.

2 hari kemudian, di pagi hari Ragil terbangun dengan wajah malasnya, tidak seperti yang kemarin. Kali ini sungguh tak bersemangat. Yah, Ragil sudah masuk sekolah, ia berjalan menuruni tangga dengan langkah berat seperti dia mengangkat batu seberat 320 ton. Ia lalu mandi, sarapan dan menjemput Mella, Mella sudah menunggu di depan rumah Mella. Kemarin, Mella memberitahu Ragil bahwa ia akan pindah ke sekolahnya. Mella tampak agak berdandan hari ini, roknya sedikit di atas lutut.

“Duh, lama banget sih! Liat udah jam berapa!” Kata Mella sambil memperlihatkan smartphonenya yang waktunya sudah menunjukkan pukul 06.30. “Katanya mau jemput jam 6!”

“Maaf, tadi kesiangan. Aku bangun jam setengah 6 tadi”

“Ya udah! Ayo cepet berangkat! Nanti kebagian tempat duduk depan lagi!” Mella naik motor Ragil

“Kan gapapa, yang penting kita duduk sebangku” Kata Ragil dengan nada menggoda

“Ih, siapa juga yang mau duduk sama kamu!” Mella menepuk punggung Ragil. “Benar juga sih” Gumam Mella senang

“Ngomong apa tadi?” Ragil tak mendengarnya

“Cuma ngomong sendiri, udah, ayo cepet berangkat!”

Ragil lalu melaju menuju sekolahnya. Di jalan, Mella banyak bertanya mengenai sekolahnya, Ragil memberitahu sedetail detailnya tentang sekolahnya, dari kelasnya, guru, sampai kamar mandinya yang tak terawat. 5 menit kemudian, mereka sampai di sekolahnya. “Ngg… 11A mana ya?” Batin Ragil yang masuk ke sekolahnya diikuti Mella.

“Eh gil! Lama ga ketemu!” Sapa teman Ragil yang berpapasan dengannya saat ingin mencari kelasnya. Orang itu lalu mendekati Ragil. “Btw, siapa tuh cewe? Cakep bener…” Komentarnya saat melihat Mella yang sedang membetulkan rambutnya.

“Lu emang ga berubah, ini Mella” Kata Ragil sambil memperkenalkan Mella. “Dia baru pindah kesini”

“Hai, aku Mella” Sapa Mella sambil tersenyum

“Ha… Hai, aku Rafi! Single! sedang mencari…” Bugg!! Belum selesai bicara, Ragil menginjak kaki Rafi. “Aduduh!!”

“Ayo!” Ragil menarik Mella

 Mella mengangguk, ia lalu mengikuti Ragil mencari kelasnya. Akhirnya mereka menemukannya. Mereka lalu masuk. Beruntung, semua tempat duduk di depan sudah penuh, tinggal 1 tempat duduk di deret ke 3 paling pojok. Di kelas ini ada 5 deret meja ke belakang, sedangkan ke pinggir ada 6 baris. Ragil dan Mella lalu menuju ke tempat duduk itu dan meletakkan tasnya.

“Mau ke kantin?” Tawar Ragil. “Sekalian kamu liat liat sekolah ini kaya gimana”

“Boleh…” Mella setuju


Mereka lalu menuju kantin. Di dalam perjalanan, banyak orang yang mengamati Mella dan Ragil, Tak terkecuali para hantu. Tapi, hanya laki laki yang mengamati mereka. Sesampainya di kantin, laki laki masih mengamati mereka berdua. “Ni orang orang ngapain sih” Batin Ragil kesal. Ragil dan Mella memilih tempat yang paling pojok.

“Aku merasa tak enak…” Kata Mella tiba tiba

“Apa maksudmu?”

“Lihatlah sekelilingmu, semuanya mengamati kita”

“Cuek saja” Kata Ragil yang langsung memesan makanan. “Bu, bakso 2 pake sambel super pedas!!”

“Eeh, aku ga suka pedas! Yang 1 ga pedas bu!” Teriak Mella. “Kamu asal nyrocos saja!”

“Aku kira kamu suka pedas, hehehe…”

“Eh Gil, lama ga ketemu!” Sapa seseorang lagi. Dan pertanyaan yang di tanyakan sama dengan Rafi. “Siapa tuh cewe Gil, manis juga…”

“Ini Mella, dia baru pindah hari ini”

“Hai, aku Mella…” Sapa Mella

“Hai juga… Namaku Aldi…” Orang itu duduk di sebelah Ragil

“Sampai lu njelasin kalo lu single, gw tonjok lu” Bisik Ragil geram

“Santai bro!” Kata Aldi dengan wajah agak takut

“Kenapa bisik bisik?” Mella dari tadi memperhatikan mereka

“Enggak kok, ga papa” Kata Ragil sambil tersenyum. Tak lama kemudian, ibu kantin datang membawa 2 bakso dan 1 jus melon

“Kau pesan jus?” Tanya Ragil pada Aldi

“Yah, begitulah”

Ibu kantin lalu menaruh makanan dan minumannya yang dipesan mereka. Tanpa basa basi, Ragil langsung menyantapnya hingga wajahnya penuh dengan mie seperti anak kecil.

“Duh, kaya anak kecil aja. Pelan pelan” Kata Mella sambil mengusap mie yang ada di wajah Ragil dengan tisu

“Iya iya…” Ragil tampak senang

“Ehmm…” Aldi tampak tak senang karena dikacangin

“Kenapa? Dikacangin yee??” Tiba tiba Rafi datang membuat Ragil, Mella dan Aldi terkejut

“Sialan, mereka kaya gitu, gw dikacangin” Kata Aldi lesu

“Nah, rasain. Makanya jadi orang jangan jomblo!” Rafi tertawa

“Lu juga jomblo kan?” Bisik Ragil sambil tersenyum

“Sst, diem aja…”

“Nah, lu juga jomblo kan!” Aldi meledek Rafi

“Gw bukan jomblo tau!”

“Terus apaan?! Hahaha!”

“Tuna asmara doang!”

“Itu sama aja!”

Ragil hanya geleng geleng kepala melihat tingkah mereka.

Mella dan Ragil sudah selesai makan, Mella melihat smartphonenya sudah menunjukkan pukul 06.55.

“Eh, udah jam 7 kurang 5 menit! Ayo masuk kelas!” Kata Mella sambil menarik tangan Ragil keluar dari kantin

“Iya iya…” Ragil mengikuti Mella menuju kelasnya

Sesampainya di kelas, mereka semua mengamati Ragil dan Mella. Ragil mah cuek bebek aja, ia tetap berjalan menuju tempat duduknya. Hanya saja, Mella yang dari tadi merasa tak enak di amati seperti ini. Ia berjalan disebelah Ragil dengan wajah tegang. Sampai di tempat duduknya, Ragil langsung molor dan Mella bermain smartphonenya. Kriinngg! Tanda bel masuk berbunyi, semua duduk di tempatnya masing masing. Pelajaran pertama, matematika. Bapak guru masuk ke kelasnya.

“Selamat pagi anak anak” Sapa guru itu ramah

“Selamat pagi pak guru!” Jawab semua siswa serentak

“Mulai hari ini, kita mendapat siswi baru. Nah, sekarang, kau majulah” Guru itu menunjuk Mella. Mella tampak gugup

“Santai saja, kalem. Coba kamu maju terus jelasin siapa kamu” Ragil yang sudah bangun karena kaget akan suara serentak anak anak kelas

“Baiklah…” Mella maju dengan langkah malu malu. Sampai di depan, Mella menjelaskan data dirinya.

“Adakah seseorang yang kamu kenal di kelas ini?” Tanya guru itu

“Ada, orang itu duduk di sebelah saya” Mella melirik Ragil yang sedang menatap ke luar jendela

“Ragil?”

“Benar pak…” Semua isi kelas menatap Ragil. Ragil tak peduli dengan teman teman kelasnya. Ia ingin segera istirahat dan pulang ke rumahnya.

                                                                                                Bersambung
....

No comments:

Post a Comment