Dah lama ga apdet...
Part
1
Black
Hat: Mission
Berunding
di meja bundar bersama orang orang yang cukup kaya. Huh, tugasku kali ini
sangat menyebalkan. Menyamar menjadi orang kaya, lalu membunuh salah satu yang
menjadi target operasi. Tugasku hanya pada malam hari, di mana orang orang kaya
berkumpul dan berjudi di sebuah bangunan mewah bertingkat enam.
“Royal!” Seseorang dari orang yang
berjudi itu mengeluarkan seluruh kartunya. “Hahaha! Aku menang!”
“Uh,
sial!”
“Huh!”
Aku
duduk di sofa empuk sambil di temani temanku, Ran. Perkerjaan kami sama, hanya
saja targetnya berbeda. Target yang Ran incar sudah lumpuh di jalan sebelum
sampai sini. Memang aneh kenapa mereka tidak sadar jika ada orang yang belum
datang. Sekarang tinggal punyaku
“Agen
satu, kode 29314...” Kata Ran berbisik di mic kecil di antara leher dan pipinya
“Kode di terima, laksanakan tugas”
“Baik...”
Ran lalu mematikannya dan lalu berbisik pelan kepadaku. “Rencana sudah di atur,
kita tinggal tunggu waktunya tiba”
Aku
menangguk. Sambil meminum wine dan
melihat orang orang berpesta ria, ada yang di temani pelacur. Mabuk mabukan,
dan lain lain. Aku sebenarnya benci semua ini. Selesai pesta, semuanya pulang.
Hingga ruangan sangat sepi, aku dan Ran kemudian keluar secepatnya. Kami keluar
merayap rayap di dinding luar bangunan itu, terlihat dengan sangat jelas di
bawah, seseorang berbadan gemuk sedang ingin menaiki mobil limosin bersama
seorang wanita jalang. Tiba tiba mataku tertuju pada satu tempat, di sakunya?
Ada apa di dalam sakunya? Gumamku. Lalu aku melirik Ran.
“Jangan,
tunggu sampai ada perintah...” Kami berdiam diri sejenak. “Sekarang!”
Syatt!
Aku dan Ran lompat ke bawah hingga mengagetkan bodyguard dan orang gemuk itu. Dor dor dor! Mereka menembaki kami.
Seperti biasa, dengan lincah menghindari serangan demi serangan dan segera
mematahkan tangannya.
“Cepat
lari!” Orang gemuk itu lalu cepat cepat menaiki limosinnya dan segera melaju
dengan kecepatan sangat tinggi
“Gabriel!”
Teriak Ran padaku
“Baik!”
Syatt!
Aku berlari secepat kilat mengejar limosin itu entah kenapa, jalanan sangat
sepi. Padahal biasanya sangat ramai. Tar tar! Orang itu menembakiku menggunakan
pistolnya. Aku mempercepat lariku hingga dapat di samping pengemudi limosin
itu. Prang! Kacanya kupecahkan dan aku segera menendang wajahnya. Limosin itu oleng
dan akhirnya menabrak tiang jalan. Orang bertubuh gemuk itu keluar dari
mobilnya yang terguling, tapi karena terlalu gemuk, jadi hanya sampai pundak ia
keluar.
“Skakmat...”
Kata Ran muncul dari belakangku
“Gh...”
Orang itu mengeram kesal
“Baiklah,
sekarang. Jawab pertanyaanku...”
“Kau...
Mau apa kalian denganku?”
“Hanya
memberikan pertanyaan dan kau harus menjawabnya”. “Apa kau kenal dengan Kim Jon
Koe?”
“Tidak...
Aku tidak mengenalnya sama sekali...” Aku jongkok di depannya dan menjambak
rambutnya
“Kau
berbohong kan?” Tanyaku tersenyum penuh arti sambil mengeluarkan pisau dari
sakuku. “Kebetulan aku tahu cara menguliti manusia, apa kau mau?”
“Benar
aku tidak tahu...” Swing! Aku mengayunkan pisau yang kupegang hingga pipinya
terluka
“Jawab
dengan jujur!”
“Ba...
Baiklah!” Akhirnya orang gemuk itu membuka mulut. “Ya! Memang, aku mengenalnya!
Dia adalah partnerku!”
“Dimana
dia berada?”
“Aku
tidak tahu dimana pastinya, tapi mungin saja sekarang ia berada di Brazil
mengadakan pertemuan bersama seseorang yang penting!”
“Terima
kasih atas kerja samanya...” Aku melepaskan tanganku dari rambutnya. “Ran”
“Aku
tahu...” Duar! Ran menembak kepala orang itu, darah berceceran itu sudah biasa
kulihat. “Haah... Akhirnya selesai juga misi kali ini...” Kata Ran sambil menggerak
gerakan tubuhnya. “Misi selesai” Ran berbisik pada micnya
“Baiklah, kalian bisa kembali ke markas”
“Tunggu
sebentar...” Aku merogoh rogoh saku bajunya dan menemukan sebuah kartu nama
yang agak berlumuran darah. Black Hat?
Gumamku. Aku lalu mengantonginya. “Apa maksudnya?”
“Kenapa?”
“Tak
ada”. “Baiklah, ayo kita pulang...” Ucapku sambil lalu
“Ok!”
Aku
dan Ran pulang menaiki mobil yang memang sudah di siapkan sejak awal. Entah
sejak berapa lama, aku tak ingat. Saat pertama kali aku bergabung dengan kelompok
ini, aku tidak mengenal siapapun kecuali Ran. Dia adalah teman SMPku. Mungkin
akan kuceritakan sedikit ya riwayat hidupku.
***
Sejak
aku umur, 4 tahun, aku sudah bisa mengerjakan soal anak SD kelas 3. Sampai
sampai orang tuaku memanggil psikiater untuk memeriksa keadaanku, katanya tidak
ada apa apa. Namun, psikiater itu mengatakan kalau aku mempunyai sesuatu yang
spesial, entah apa itu. Aku baru menyadarinya saat aku berumur 12 tahun. Di
saat itu, aku tahu kalau aku mempunyai kekuatan. Yah, seperti lari mirip flash tadi. Tidak hanya itu, aku juga
bisa menembus dinding, menghilang dan teleportasi. Kenapa aku bisa tahu itu
karena Ran yang memberitahuku. Katanya “Kau sama denganku, anak yang mempunyai
kekuatan spesial yang hanya dimiliki orang orang tertentu” Katanya. Ran lalu
mengajakku ke suatu tempat yang penuh dengan bunga dan disana ada seseorang.
Orang itulah yang kemudian mengajariku bagaimana cara mengendalikan kekuatan
ini, dia adalah guru Ran. Beberapa hari kemudian, orang itu, lebih tepatnya guruku
berkata “Mungkin banyak orang yang mempunyai kekuatan seperti ini dan
menyalahgunakannya, tapi, jangan kalian seperti itu. Ajaklah mereka semua yang
memiliki kekuatan spesial dan buatlah sebuah grub kecil” Ucapnya lalu pergi,
hingga sekarang.
***
“Hei
kenapa kau tampak resah?” Tanya Ran yang melihatku dari tadi
“Tak
apa...” Jawabku singkat
“Oh
ya, bagaimana dengan adikmu?”
“Maksudmu
Aya? Yah, dia baik baik saja. Tapi, aku merasakan sesuatu...”
“Pasti
dia baik saja, tenang...” Ran menepuk pundakku dan tersenyum. Aku hanya
tersenyum sebentar lalu memikirkan hal hal itu lagi
“Benarkah
ia baik saja?” Pikirku
Aku
dan Ran sampai di markas tempat kami berkerja. Yah, memang tidak terlalu besar.
Tapi minimal cukuplah untuk menampung seluruh anggota. Untuk masuk ke dalam
harus menggunakan finger print,
analisa kartu anggota, passsword. Memang agak lama, tapi ini untuk pertahanan.
Aku dan Ran masuk dan segera ke ruangan master, biasa kami sebut Sensei.
“Kerja
bagus...” Kata Sensei dengan kursi menghadap jendela belakangnya
“Apa
kami akan di bebas tugaskan, Sensei?” Tanya Ran
Sensei
lalu membalikan kursinya, lelaki berbadan kekar duduk disitu sambil menghisap
rokok. “Ya, selama beberapa hari kedepan, kalian akan di bebas tugaskan.
Lakukanlah apa yang kalian mau”
“Terima
kasih”
Kami
berdua lalu keluar dan menuju ke ruangan tempat untuk bersantai. Juga, ada
alasannya kami memanggilnya Sensei. Karena dia guru kedua kami setelah orang
itu, tapi ia tetap bersama kami dan mendirikan organisasi ini. Alasan kami
memanggilnya seperti itu bukan hanya karena dia guru kami, sebenarnya aku dan
Ran selama ini tidak tahu siapa nama aslinya. Jadi kami hanya memanggilnya
Sensei. Sekarang, aku dan Ran sampai di ruang bersantai. Disana banyak orang
orang yang sekelompok denganku sedang ngobrol ngobrol.
“Hoi!
Kalian!” Terdengar suara teriakan perempuan dari meja di pojok
“Tuh,
kekasihmu sudah memanggilmu” Kata Ran
“Bukan
hanya aku, kau juga!” Aku menarik tangan Ran menuju ke meja yang di tempati
oleh perempuan itu. Ia bernama Lyla, sudah hampir 2 tahun aku menjalin hubungan
dengannya. Parasnya memang cukup cantik, apalagi dengan rambut pink keputihan
terurai ke bawah. Wajar saja banyak yang jatuh hati padanya, namun akhirnya aku
yang memenangkannya. Tidak hanya Lyla yang duduk disana. Ada Erland, Nao
(Adiknya Lyla), Tomora dan Ely. “Lho? Aya mana?” Tanyaku heran
“Dia
sedang di rumah, nonton TV. Mungkin” Jawab Lyla seraya duduk di pinggirku. Aku
menghela napas lega, untung saja ia tidak pergi kemana mana. “Bagaimana tadi?”
“Cukup
mudah...”
“Kalau
ada kamu pasti semuanya bisa diatasi” Lyla tersenyum
“Ehm...”
Nao berdehem tanpa memalingkan wajah dari gamenya. “Ingat kak, tidak hanya kalian
berdua loh disini”
“Eh?
Ap... Apa sih kamu?!” Wajah Lyla mulai memerah
“Kalau
mau bermesraan di luar aja dulu, biar kita disini” Ely ikut nimbrug
“Benar
juga...”
Aku
menatap Lyla dan segera menggandengnya keluar. Di luar, kami duduk di bawah
pohoh yang cukup rimbun di bawah terik matahari. Aku berbaring sambil melihat
dedaunan yang berterbangan tertiup angin. Tidak ada yang berbicara sepatah
katapun selama beberapa menit.
“Gabriel...”
Lyla akhirnya memulai pembicaraan
“Kenapa?”
“Tak
ada, hanya mengetesmu saja...”
Kukira
apa, ternyata... Gumamku. “Eh iya...” Aku teringat kartu nama yang tadi kuambil
dari kantong orang gendut. “Apa kau tahu ini?” Tanyaku sambil memperlihatkannya
pada Lyla
Lyla
mengambil dan mencermatinya. “Black Hat?” Lyla tampak berpikir keras. “Aku
belum pernah mendengarnya...”
“Mungkin
kita bisa bertanya pada orang yang di dalam?”
Lyla
mengangguk lalu memberikan kartu nama itu lagi kepadaku. Aku dan Lyla segera
masuk lagi ke dalam ruangan bersantai dan segera menghampiri mereka.
“Sudah
puas?” Tanya Erland
“Maksudmu?”
Jawabku dingin
“Hahaha!
Jangan terlalu serius ah!” Erland menepuk pundakku sambil tertawa
“Ubah
topik pembicaraan...”. “Kau tahu siapa ini?” Aku menyerahkan kartu nama itu
pada Erland
“Di
mana coba kulihat?” Nao ikut melihatnya. “Black Hat?”
“Black
Hat? Nama samaran kah?”
“Aku
tidak tahu, aku menemukannya saat membunuh target 493”
“Coba
sini kulihat...” Ely menyerobot kartu nama yang di pegang Erland. Tiba tiba
raut wajahnya berubah. “Aku... Aku pernah mendengarnya...”
“Maksudmu
kau pernah mendengar kata ‘Black Hat’?” Lyla terbelalak
“Ya,
aku tidak ingat pasti. Tapi ia menggunakan jas serta topi hitam, pistol dan
pisau di pinggang. Di belakangnya ada sebuah kapak kecil” Terang Ely
“Mafia?”
Tanyaku
“Ya.
Mafia, pembunuh bayaran, penyeludup narkoba mungkin”
“Dimana
dia berada?”
“Biasanya
dia berada dekat dari daerah sini” Aku mengangguk paham. Sambil terus merenung
dan memikirkan si Black Hat
“Bagaimana
jika kita mencarinya? Aku sedikit penasaran dengannya...” Ujarku
“Maksudmu
investigasi?” Tanya Ran
“Benar.”.
“Kita semua akan mencarinya besok malam, kebetulan aku tidak punya misi apa apa
setelah ini...”. “Bagimana dengan kalian?”
“Aku
tidak ada...” Kata Erland
“Sama”
Ucap Nao
“Aku
juga” Jawab Lyla
“Apalagi
aku” Ely masih memperhatikan kartu itu sambil mengangguk ngangguk. Mimik
wajahnya sangat lucu jika sedang serius begitu
“Baiklah,
kita mulai rencana besok...” Aku menyudahi pembicaraan dan mengangkat minuman
yang kupesan. “Kita bersulang!”
“Bersulang!”
Kami
semua tertawa lepas, sambil menceritakan pengalaman pengalaman yang kami alami
selama semua misi yang telah di lalui.
*Besoknya*
Aku
mempersiapkan seluruh perlengkapan seperti pistol, double barrel shotgun, micro uzi, M4A1 dan banyak lagi. Aku
memasukkannya ke dalam bagasi mobil, untung saja polisi sudah tahu siapa diriku
dan kelompokku. Jadi aku bisa membawa senjata sesuka hatiku. Kami semua sudah
siap berangkat. Nao bersama Erland, Lyla bersama Ely, dan aku bersama Ran. Aku
langsung tancap gas yang diikuti oleh semuanya.
“Aku
penasaran dengannya...” Ucap Ran tiba tiba
“Maksudmu
si Black Hat?” Jawabku sambil terus menyetir mobil
“Ya”.
“Apa dia pembunuh bayaran? Perampok? Buronan internasional? Mafia?”
“Kalau
di pikirkan apa yang Ely katakan, berjas hitam dan bertopi hitam...”.
“Kemungkinan besar mafia”
“Aku
setuju denganmu...”
“Ran? Ran? Gabriel? Masuk” Tiba tiba
suara radio milik kami berdua berbunyi
“Ya?
Ely kah?”
“Benar”. “Tak sengaja tadi aku melihat seseorang berjas hitam, menggunakan topi
hitam berjalan ke utara sekitar 50 meter dari sini”
“Mungkinkah
itu dia?”
“Kemungkinan memang begitu...”
“Baiklah,
kami akan segera kesana”
Aku
langsung memutar arah mobilku dan langsung kugas mobilku hingga kecepatan 140
KM/H. Drifting dan balapan memang keahlianku, jadi tidak mungkin ada yang
tertabrak. Untung saja, tidak ada polisi yang lewat. Aku dan Ran sampai di
tempat mereka. Tampak Ely sedang mencari cari petunjuk layaknya detektif.
“Bagaimana?”
Tanyaku seraya mendekati Ely
“Nihil...”
Kata Ely yang masih terus mencari
“Tap...
Tapi benar aku melihatnya tadi disini!” Bantah Lyla
“Tidak
ada sama sekali, Mungkin khayalanmu saja” Lyla tampak kecewa. Aku mendekati
Lyla dan mengelus rambutnya
“Tak
apa, mungkin kau hanya kecapekan...” Ucapku menenangkan. “Baiklah, mungkin kita
harus mencari tidak hanya disini. Melainkan masuk ke dalam sana” Aku menunjuk
sebuah gang sempit di seberang jalan
“Hm...
Mungkin ia ada disana...” Ujar Erland sambil menyebrang jalan
Kami
semua mengikutinya. Aku mengambil senjata terlebih dahulu, sebuah M4A1 dan
pisau agar aman. Kami sudah sampai di gang, suasananya berubah seketika, sangat
sepi. Terkadang ada tikus lewat dan gemricik air pipa yang bocor. Aku sangat
waspada kanan kiri, sambil memperhatikan seluruh penjuru. Swing! Sebuah kunai
turun dari atas genteng gedung tinggi.
“Menghindar!”
Teriakku seraya mengeluarkan pisau dan menangkisnya
“Lihat!”
Nao menunjuk ke atas, tampak seorang berjas dan bertopi. “Itu dia!” Syatt! Aku
melompat lompat ke tembok tembok gedung dan akhirnya sampai atas
“Pegang
ini!” Teriakku. Orang itu berlari menjauh namun langsung kukejar
“Gabriel,
apa dia akan berhasil?” Batin Lyla
“Tunggu
aku!” Ran ikut melompati gedung. Semuanya hanya melihat dari bawah. Sementara
itu, aku berhadapan langsung dengan Black Hat di atas gedung yang cukup jauh
dari mereka. Black Hat memiliki postur tubuh yang cukup besar, wajahnya di
tutupi oleh topeng yang hampir sama seperti scream
“Khu
khu... Kau sudah berhasil mengejarku...” Katanya santai
“Aku
sangat penasaran denganmu” Aku memasang kuda kuda. “Bagaimana kalau kita
berduel?”
“Dasar,
apa kau siap menerima kekalahan?” Aku hanya tersenyum. Syatt! Syatt! Kami
berdua menyerang bersamaan. Tring! Pisau yang di pakainya cukup panjang, lebih
dari punyaku sedikit. Aku kemudian menghindar darinya dan menyerangnya kembali.
Gerakan gerakannya sangat lincah, sulit sekali untuk dilawan gumamku. Ia
mengayunkan pisaunya namun aku dapat mengindarinya dengan mudah. Crash! Tiba
tiba sebuah kapak kecil mengoyak daging di bahu kiriku, sontak aku langsung
menjauh. “Hahaha!”. “Tanganmu yang satu sudah tidak bisa digunakan lagi kan?”
“Ugh...”
Aku memegang bahu kiriku yang terus mengeluarkan darah. “Tapi aku bel-“ Syutt!
Tiba tiba Ran muncul dari belakangku dan melemparkan dua mata pisau kearahnya.
Black Hat menghindarinya dengan sangat mudah. Buagh! Ran menendangnya dan
membuatnya terpental
“Tepat
waktu...” Kata Ran bergaya
“Tepat
waktu?! Apanya yang tepat waktu!”
“Iya
kan?” Ran lalu menatapku. “Lho? Kenapa bahumu?” Aku terdiam sebentar lalu
mencekiknya. “Weekh! Sabar sabar!” Aku melepaskan tanganku, walau masih sedikit
kesal. Ini bukan waktunya
“Kuh...”
Black Hat tampak sangat kesakitan di bagian dada dan perut. “Sialan...”
“Lihat,
kau sudah kalah?” Ran mendekatinya dan jongkok di depannya. Ia lalu membuka
topeng yang menutupi wajah orang itu. “Eeh?”
“Kenapa?”
Aku berjalan ke arah Ran. Sontak aku terkaget karena ada 2 orang laki laki
pendek yang tampak kesakitan. “Inikah Black Hat?” Gumamku
Sementara
itu di sebuah tempat.
“Tuan,
mereka sudah dikalahkan...” Kata pelayan dari belakangnya
“Huh,
tidak berguna sama sekali... Biarkan saja mereka di bunuh” Orang itu masih
menatap layar besarnya. “Siapa mereka berdua?”
Bersambung ....