Find a other post

Tuesday, February 16, 2016

Black Hat



Dah lama ga apdet...
Part 1
Black Hat: Mission
Berunding di meja bundar bersama orang orang yang cukup kaya. Huh, tugasku kali ini sangat menyebalkan. Menyamar menjadi orang kaya, lalu membunuh salah satu yang menjadi target operasi. Tugasku hanya pada malam hari, di mana orang orang kaya berkumpul dan berjudi di sebuah bangunan mewah bertingkat enam.

Royal!” Seseorang dari orang yang berjudi itu mengeluarkan seluruh kartunya. “Hahaha! Aku menang!”
“Uh, sial!”
“Huh!”

Aku duduk di sofa empuk sambil di temani temanku, Ran. Perkerjaan kami sama, hanya saja targetnya berbeda. Target yang Ran incar sudah lumpuh di jalan sebelum sampai sini. Memang aneh kenapa mereka tidak sadar jika ada orang yang belum datang. Sekarang tinggal punyaku

“Agen satu, kode 29314...” Kata Ran berbisik di mic kecil di antara leher dan pipinya
Kode di terima, laksanakan tugas
“Baik...” Ran lalu mematikannya dan lalu berbisik pelan kepadaku. “Rencana sudah di atur, kita tinggal tunggu waktunya tiba”

Aku menangguk. Sambil meminum wine dan melihat orang orang berpesta ria, ada yang di temani pelacur. Mabuk mabukan, dan lain lain. Aku sebenarnya benci semua ini. Selesai pesta, semuanya pulang. Hingga ruangan sangat sepi, aku dan Ran kemudian keluar secepatnya. Kami keluar merayap rayap di dinding luar bangunan itu, terlihat dengan sangat jelas di bawah, seseorang berbadan gemuk sedang ingin menaiki mobil limosin bersama seorang wanita jalang. Tiba tiba mataku tertuju pada satu tempat, di sakunya? Ada apa di dalam sakunya? Gumamku. Lalu aku melirik Ran.

“Jangan, tunggu sampai ada perintah...” Kami berdiam diri sejenak. “Sekarang!”

Syatt! Aku dan Ran lompat ke bawah hingga mengagetkan bodyguard dan orang gemuk itu. Dor dor dor! Mereka menembaki kami. Seperti biasa, dengan lincah menghindari serangan demi serangan dan segera mematahkan tangannya.

“Cepat lari!” Orang gemuk itu lalu cepat cepat menaiki limosinnya dan segera melaju dengan kecepatan sangat tinggi
“Gabriel!” Teriak Ran padaku
“Baik!”

Syatt! Aku berlari secepat kilat mengejar limosin itu entah kenapa, jalanan sangat sepi. Padahal biasanya sangat ramai. Tar tar! Orang itu menembakiku menggunakan pistolnya. Aku mempercepat lariku hingga dapat di samping pengemudi limosin itu. Prang! Kacanya kupecahkan dan aku segera menendang wajahnya. Limosin itu oleng dan akhirnya menabrak tiang jalan. Orang bertubuh gemuk itu keluar dari mobilnya yang terguling, tapi karena terlalu gemuk, jadi hanya sampai pundak ia keluar.

“Skakmat...” Kata Ran muncul dari belakangku
“Gh...” Orang itu mengeram kesal
“Baiklah, sekarang. Jawab pertanyaanku...”
“Kau... Mau apa kalian denganku?”
“Hanya memberikan pertanyaan dan kau harus menjawabnya”. “Apa kau kenal dengan Kim Jon Koe?”
“Tidak... Aku tidak mengenalnya sama sekali...” Aku jongkok di depannya dan menjambak rambutnya
“Kau berbohong kan?” Tanyaku tersenyum penuh arti sambil mengeluarkan pisau dari sakuku. “Kebetulan aku tahu cara menguliti manusia, apa kau mau?”
“Benar aku tidak tahu...” Swing! Aku mengayunkan pisau yang kupegang hingga pipinya terluka
“Jawab dengan jujur!”
“Ba... Baiklah!” Akhirnya orang gemuk itu membuka mulut. “Ya! Memang, aku mengenalnya! Dia adalah partnerku!”
“Dimana dia berada?”
“Aku tidak tahu dimana pastinya, tapi mungin saja sekarang ia berada di Brazil mengadakan pertemuan bersama seseorang yang penting!”
“Terima kasih atas kerja samanya...” Aku melepaskan tanganku dari rambutnya. “Ran”
“Aku tahu...” Duar! Ran menembak kepala orang itu, darah berceceran itu sudah biasa kulihat. “Haah... Akhirnya selesai juga misi kali ini...” Kata Ran sambil menggerak gerakan tubuhnya. “Misi selesai” Ran berbisik pada micnya
Baiklah, kalian bisa kembali ke markas
“Tunggu sebentar...” Aku merogoh rogoh saku bajunya dan menemukan sebuah kartu nama yang agak berlumuran darah. Black Hat? Gumamku. Aku lalu mengantonginya. “Apa maksudnya?”
“Kenapa?”
“Tak ada”. “Baiklah, ayo kita pulang...” Ucapku sambil lalu
“Ok!”

Aku dan Ran pulang menaiki mobil yang memang sudah di siapkan sejak awal. Entah sejak berapa lama, aku tak ingat. Saat pertama kali aku bergabung dengan kelompok ini, aku tidak mengenal siapapun kecuali Ran. Dia adalah teman SMPku. Mungkin akan kuceritakan sedikit ya riwayat hidupku.

***
Sejak aku umur, 4 tahun, aku sudah bisa mengerjakan soal anak SD kelas 3. Sampai sampai orang tuaku memanggil psikiater untuk memeriksa keadaanku, katanya tidak ada apa apa. Namun, psikiater itu mengatakan kalau aku mempunyai sesuatu yang spesial, entah apa itu. Aku baru menyadarinya saat aku berumur 12 tahun. Di saat itu, aku tahu kalau aku mempunyai kekuatan. Yah, seperti lari mirip flash tadi. Tidak hanya itu, aku juga bisa menembus dinding, menghilang dan teleportasi. Kenapa aku bisa tahu itu karena Ran yang memberitahuku. Katanya “Kau sama denganku, anak yang mempunyai kekuatan spesial yang hanya dimiliki orang orang tertentu” Katanya. Ran lalu mengajakku ke suatu tempat yang penuh dengan bunga dan disana ada seseorang. Orang itulah yang kemudian mengajariku bagaimana cara mengendalikan kekuatan ini, dia adalah guru Ran. Beberapa hari kemudian, orang itu, lebih tepatnya guruku berkata “Mungkin banyak orang yang mempunyai kekuatan seperti ini dan menyalahgunakannya, tapi, jangan kalian seperti itu. Ajaklah mereka semua yang memiliki kekuatan spesial dan buatlah sebuah grub kecil” Ucapnya lalu pergi, hingga sekarang.
***

“Hei kenapa kau tampak resah?” Tanya Ran yang melihatku dari tadi
“Tak apa...” Jawabku singkat
“Oh ya, bagaimana dengan adikmu?”
“Maksudmu Aya? Yah, dia baik baik saja. Tapi, aku merasakan sesuatu...”
“Pasti dia baik saja, tenang...” Ran menepuk pundakku dan tersenyum. Aku hanya tersenyum sebentar lalu memikirkan hal hal itu lagi
“Benarkah ia baik saja?” Pikirku

Aku dan Ran sampai di markas tempat kami berkerja. Yah, memang tidak terlalu besar. Tapi minimal cukuplah untuk menampung seluruh anggota. Untuk masuk ke dalam harus menggunakan finger print, analisa kartu anggota, passsword. Memang agak lama, tapi ini untuk pertahanan. Aku dan Ran masuk dan segera ke ruangan master, biasa kami sebut Sensei.

“Kerja bagus...” Kata Sensei dengan kursi menghadap jendela belakangnya
“Apa kami akan di bebas tugaskan, Sensei?” Tanya Ran
Sensei lalu membalikan kursinya, lelaki berbadan kekar duduk disitu sambil menghisap rokok. “Ya, selama beberapa hari kedepan, kalian akan di bebas tugaskan. Lakukanlah apa yang kalian mau”
“Terima kasih”

Kami berdua lalu keluar dan menuju ke ruangan tempat untuk bersantai. Juga, ada alasannya kami memanggilnya Sensei. Karena dia guru kedua kami setelah orang itu, tapi ia tetap bersama kami dan mendirikan organisasi ini. Alasan kami memanggilnya seperti itu bukan hanya karena dia guru kami, sebenarnya aku dan Ran selama ini tidak tahu siapa nama aslinya. Jadi kami hanya memanggilnya Sensei. Sekarang, aku dan Ran sampai di ruang bersantai. Disana banyak orang orang yang sekelompok denganku sedang ngobrol ngobrol.

“Hoi! Kalian!” Terdengar suara teriakan perempuan dari meja di pojok
“Tuh, kekasihmu sudah memanggilmu” Kata Ran
“Bukan hanya aku, kau juga!” Aku menarik tangan Ran menuju ke meja yang di tempati oleh perempuan itu. Ia bernama Lyla, sudah hampir 2 tahun aku menjalin hubungan dengannya. Parasnya memang cukup cantik, apalagi dengan rambut pink keputihan terurai ke bawah. Wajar saja banyak yang jatuh hati padanya, namun akhirnya aku yang memenangkannya. Tidak hanya Lyla yang duduk disana. Ada Erland, Nao (Adiknya Lyla), Tomora dan Ely. “Lho? Aya mana?” Tanyaku heran
“Dia sedang di rumah, nonton TV. Mungkin” Jawab Lyla seraya duduk di pinggirku. Aku menghela napas lega, untung saja ia tidak pergi kemana mana. “Bagaimana tadi?”
“Cukup mudah...”
“Kalau ada kamu pasti semuanya bisa diatasi” Lyla tersenyum
“Ehm...” Nao berdehem tanpa memalingkan wajah dari gamenya. “Ingat kak, tidak hanya kalian berdua loh disini”
“Eh? Ap... Apa sih kamu?!” Wajah Lyla mulai memerah
“Kalau mau bermesraan di luar aja dulu, biar kita disini” Ely ikut nimbrug
“Benar juga...”

Aku menatap Lyla dan segera menggandengnya keluar. Di luar, kami duduk di bawah pohoh yang cukup rimbun di bawah terik matahari. Aku berbaring sambil melihat dedaunan yang berterbangan tertiup angin. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun selama beberapa menit.

“Gabriel...” Lyla akhirnya memulai pembicaraan
“Kenapa?”
“Tak ada, hanya mengetesmu saja...”
Kukira apa, ternyata... Gumamku. “Eh iya...” Aku teringat kartu nama yang tadi kuambil dari kantong orang gendut. “Apa kau tahu ini?” Tanyaku sambil memperlihatkannya pada Lyla
Lyla mengambil dan mencermatinya. “Black Hat?” Lyla tampak berpikir keras. “Aku belum pernah mendengarnya...”
“Mungkin kita bisa bertanya pada orang yang di dalam?”

Lyla mengangguk lalu memberikan kartu nama itu lagi kepadaku. Aku dan Lyla segera masuk lagi ke dalam ruangan bersantai dan segera menghampiri mereka.

“Sudah puas?” Tanya Erland
“Maksudmu?” Jawabku dingin
“Hahaha! Jangan terlalu serius ah!” Erland menepuk pundakku sambil tertawa
“Ubah topik pembicaraan...”. “Kau tahu siapa ini?” Aku menyerahkan kartu nama itu pada Erland
“Di mana coba kulihat?” Nao ikut melihatnya. “Black Hat?”
“Black Hat? Nama samaran kah?”
“Aku tidak tahu, aku menemukannya saat membunuh target 493”
“Coba sini kulihat...” Ely menyerobot kartu nama yang di pegang Erland. Tiba tiba raut wajahnya berubah. “Aku... Aku pernah mendengarnya...”
“Maksudmu kau pernah mendengar kata ‘Black Hat’?” Lyla terbelalak
“Ya, aku tidak ingat pasti. Tapi ia menggunakan jas serta topi hitam, pistol dan pisau di pinggang. Di belakangnya ada sebuah kapak kecil” Terang Ely
“Mafia?” Tanyaku
“Ya. Mafia, pembunuh bayaran, penyeludup narkoba mungkin”
“Dimana dia berada?”
“Biasanya dia berada dekat dari daerah sini” Aku mengangguk paham. Sambil terus merenung dan memikirkan si Black Hat
“Bagaimana jika kita mencarinya? Aku sedikit penasaran dengannya...” Ujarku
“Maksudmu investigasi?” Tanya Ran
“Benar.”. “Kita semua akan mencarinya besok malam, kebetulan aku tidak punya misi apa apa setelah ini...”. “Bagimana dengan kalian?”
“Aku tidak ada...” Kata Erland
“Sama” Ucap Nao
“Aku juga” Jawab Lyla
“Apalagi aku” Ely masih memperhatikan kartu itu sambil mengangguk ngangguk. Mimik wajahnya sangat lucu jika sedang serius begitu
“Baiklah, kita mulai rencana besok...” Aku menyudahi pembicaraan dan mengangkat minuman yang kupesan. “Kita bersulang!”
“Bersulang!”

Kami semua tertawa lepas, sambil menceritakan pengalaman pengalaman yang kami alami selama semua misi yang telah di lalui.
*Besoknya*
Aku mempersiapkan seluruh perlengkapan seperti pistol, double barrel shotgun, micro uzi, M4A1 dan banyak lagi. Aku memasukkannya ke dalam bagasi mobil, untung saja polisi sudah tahu siapa diriku dan kelompokku. Jadi aku bisa membawa senjata sesuka hatiku. Kami semua sudah siap berangkat. Nao bersama Erland, Lyla bersama Ely, dan aku bersama Ran. Aku langsung tancap gas yang diikuti oleh semuanya.

“Aku penasaran dengannya...” Ucap Ran tiba tiba
“Maksudmu si Black Hat?” Jawabku sambil terus menyetir mobil
“Ya”. “Apa dia pembunuh bayaran? Perampok? Buronan internasional? Mafia?”
“Kalau di pikirkan apa yang Ely katakan, berjas hitam dan bertopi hitam...”. “Kemungkinan besar mafia”
“Aku setuju denganmu...”
Ran? Ran? Gabriel? Masuk” Tiba tiba suara radio milik kami berdua berbunyi
“Ya? Ely kah?”
Benar”. “Tak sengaja tadi aku melihat seseorang berjas hitam, menggunakan topi hitam berjalan ke utara sekitar 50 meter dari sini
“Mungkinkah itu dia?”
Kemungkinan memang begitu...
“Baiklah, kami akan segera kesana”

Aku langsung memutar arah mobilku dan langsung kugas mobilku hingga kecepatan 140 KM/H. Drifting dan balapan memang keahlianku, jadi tidak mungkin ada yang tertabrak. Untung saja, tidak ada polisi yang lewat. Aku dan Ran sampai di tempat mereka. Tampak Ely sedang mencari cari petunjuk layaknya detektif.

“Bagaimana?” Tanyaku seraya mendekati Ely
“Nihil...” Kata Ely yang masih terus mencari
“Tap... Tapi benar aku melihatnya tadi disini!” Bantah Lyla
“Tidak ada sama sekali, Mungkin khayalanmu saja” Lyla tampak kecewa. Aku mendekati Lyla dan mengelus rambutnya
“Tak apa, mungkin kau hanya kecapekan...” Ucapku menenangkan. “Baiklah, mungkin kita harus mencari tidak hanya disini. Melainkan masuk ke dalam sana” Aku menunjuk sebuah gang sempit di seberang jalan
“Hm... Mungkin ia ada disana...” Ujar Erland sambil menyebrang jalan

Kami semua mengikutinya. Aku mengambil senjata terlebih dahulu, sebuah M4A1 dan pisau agar aman. Kami sudah sampai di gang, suasananya berubah seketika, sangat sepi. Terkadang ada tikus lewat dan gemricik air pipa yang bocor. Aku sangat waspada kanan kiri, sambil memperhatikan seluruh penjuru. Swing! Sebuah kunai turun dari atas genteng gedung tinggi.

“Menghindar!” Teriakku seraya mengeluarkan pisau dan menangkisnya
“Lihat!” Nao menunjuk ke atas, tampak seorang berjas dan bertopi. “Itu dia!” Syatt! Aku melompat lompat ke tembok tembok gedung dan akhirnya sampai atas
“Pegang ini!” Teriakku. Orang itu berlari menjauh namun langsung kukejar
“Gabriel, apa dia akan berhasil?” Batin Lyla
“Tunggu aku!” Ran ikut melompati gedung. Semuanya hanya melihat dari bawah. Sementara itu, aku berhadapan langsung dengan Black Hat di atas gedung yang cukup jauh dari mereka. Black Hat memiliki postur tubuh yang cukup besar, wajahnya di tutupi oleh topeng yang hampir sama seperti scream
“Khu khu... Kau sudah berhasil mengejarku...” Katanya santai
“Aku sangat penasaran denganmu” Aku memasang kuda kuda. “Bagaimana kalau kita berduel?”
“Dasar, apa kau siap menerima kekalahan?” Aku hanya tersenyum. Syatt! Syatt! Kami berdua menyerang bersamaan. Tring! Pisau yang di pakainya cukup panjang, lebih dari punyaku sedikit. Aku kemudian menghindar darinya dan menyerangnya kembali. Gerakan gerakannya sangat lincah, sulit sekali untuk dilawan gumamku. Ia mengayunkan pisaunya namun aku dapat mengindarinya dengan mudah. Crash! Tiba tiba sebuah kapak kecil mengoyak daging di bahu kiriku, sontak aku langsung menjauh. “Hahaha!”. “Tanganmu yang satu sudah tidak bisa digunakan lagi kan?”
“Ugh...” Aku memegang bahu kiriku yang terus mengeluarkan darah. “Tapi aku bel-“ Syutt! Tiba tiba Ran muncul dari belakangku dan melemparkan dua mata pisau kearahnya. Black Hat menghindarinya dengan sangat mudah. Buagh! Ran menendangnya dan membuatnya terpental
“Tepat waktu...” Kata Ran bergaya
“Tepat waktu?! Apanya yang tepat waktu!”
“Iya kan?” Ran lalu menatapku. “Lho? Kenapa bahumu?” Aku terdiam sebentar lalu mencekiknya. “Weekh! Sabar sabar!” Aku melepaskan tanganku, walau masih sedikit kesal. Ini bukan waktunya
“Kuh...” Black Hat tampak sangat kesakitan di bagian dada dan perut. “Sialan...”
“Lihat, kau sudah kalah?” Ran mendekatinya dan jongkok di depannya. Ia lalu membuka topeng yang menutupi wajah orang itu. “Eeh?”
“Kenapa?” Aku berjalan ke arah Ran. Sontak aku terkaget karena ada 2 orang laki laki pendek yang tampak kesakitan. “Inikah Black Hat?” Gumamku
Sementara itu di sebuah tempat.
“Tuan, mereka sudah dikalahkan...” Kata pelayan dari belakangnya
“Huh, tidak berguna sama sekali... Biarkan saja mereka di bunuh” Orang itu masih menatap layar besarnya. “Siapa mereka berdua?”

                                                                                          Bersambung ....

Friday, September 25, 2015

Six Sense



PART 8 (B)
Six Sense: Devil

“Aku akan mati… Aku akan mati…” Batin Ragil yang sudah panik sambil merangkak menjauh dari centaur kedua. Syatt!! Centaur kedua melancarkan serangan tombaknya. Krakk!! Sebuah pedang emas menangkis serangan itu dan membuat tombak centaur itu patah.

“L… Lisa…” Ragil melihat Lisa yang membawa sebuah pedang emas. “Excalibur!?”

“Tepat waktu…” Kata Lisa. “Terima kasih sudah mengulur waktu banyak”

“Apa itu… Excalibur?! Kupikir itu hanya mitos!”

“Pedang ini memang Excalibur, ini punyaku. Aku membuatnya sama persis dengan yang milik King Arthur” Kata Lisa yang langsung menyerang centaur kedua itu.

“P… Putri?” Centaur itu tampak takut melihat Lisa. Crashh!! Pedang Excalibur yang dibawa Lisa menancap di leher centaur kedua itu. “Tak… mung… kin…” Brugh! Centaur itu jatuh ke tanah. Iblis yang melihat anak buahnya dihabisi tampak geram.

“Bocah sial… Harus kuhabisi…” Iblis itu lalu turun ke bawah. Sementara itu, Lisa sedang mengobati Ragil dengan sihirnya.

“Bagaimana?” Tanya Lisa setelah selesai mengobati Ragil

“Sudah baikan, terima kasih…” Jawab Ragil sambil tersenyum dan langsung berdiri. Mereka berdua melihat Iblis itu berjalan mendekati mereka sambil bertepuk tangan

“Khu khu khu… Ternyata aku mendapat tamu tak diundang…” Iblis itu berhenti di tempat centaur kedua yang mati itu. “Dan… Kenapa kau membantu dia, Lisa? Bahkan sampai mengajarkan sihir peledak pada bocah ini” Iblis itu melirik Lisa

“Ayah…” Lisa mengambil kuda kuda untuk menyerang.

“A… apa maksudnya!? Dia… kau…” Ragil kaget mendengar pembicaraan mereka berdua

“Benar… Dia ayahku” Jawab Lisa yang masih memasang kuda kuda. “Kau sialan, ayah… beraninya kau mengambil Mella dari Ragil”

“Huh… Dia ingkar janji padaku”

“Janji apa?! Mengorbankan satu perempuan?! Aku sudah katakan akan aku carikan!!” Teriak Ragil mulai emosi

“Carikan? Khu khu… sampai kapan? 1 abad lagi? Padahal sudah ada Mella…”

“Apa apaan kau brengsek! Akan kucarikan tapi bukan Mella!!”

“Cih… Kalau begitu, kita bertarung” Iblis mengangkat tangannya, dan pedang Kusanagi muncul di tangannya

Kusanagi no tsurugi… Pedang legendaris Yamata No Orochi…” Walaupun Lisa melihat pedang yang dibawa Iblis itu, Lisa tetap tak gentar. “Baiklah Ragil, misimu sudah selesai. Kau boleh menyelamatkan diri dari sini. Tentunya dengan Mella”

“Tak akan…” Tangan Ragil mengepal

“Apa maksudmu? Kau bisa pergi sekarang dan selamatkan Mella! Biar aku yang melawan ayahku”

“Aku tak akan membiarkan temanku mati walaupun itu hewan sekalipun!!” Teriak Ragil. “Lisa, pinjamkan pedangmu padaku”

“Apa? Lalu aku…” Lisa bingung mau bicara apa

“Jadilah katana, aku akan menyelesaikannya sendiri”

“Baiklah… Kalau itu maumu” Lisa melemparkan pedang Excalibur itu ke Ragil dan menjadi katana. Ragil mengambil Lisa yang berwujud katana dan melepas sarungnya. Api biru muncul seketika

Dual sword? Kau kira bisa menandingiku walaupun kau menggunakan itu?”

“Kekuatanmu hanya ada didunia ini saja dan dari nalurimu saja…” Ragil memasang kuda kuda menyerang

“Apa maksudmu?” Iblis itu bingung

“Bukan Dari hatimu!!” Ragil melesat dengan cepat

“Cih!” Iblis itu juga menyerang. Trang Trang!! Dual sword yaitu Excalibur dan katana, melawan Kekuatan Kusanagi no Tsurugi yaitu Yamata no Orochi. Pertarungan itu sudah mengabiskan hampir setengah tenaga Ragil.

“Hosh… Hosh…” Ragil melompat mundur

“Sudah lelah? Huh, bocah lemah”

“Masih… Belum…” Ragil kembali menyerang iblis itu

            5 jam lamanya mereka bertarung, kekuatan itu sudah diluar batas manusia pada umumnya. Ragil hanya mempunyai seperempat tenaga lagi, tubuhnya sudah babak belur dan tangannya sudah lecet dan luka karena banyak mengayunkan pedang. Sedangkan iblis itu juga sudah kewalahan menghadapi Ragil, mereka seimbang dalam skill bertarung, juga skill sihir.

Arkana J’e Kor’t No Rin’ne!!” Iblis itu mengucapkan mantera api hitam. Bweeshh!! Api hitam menuju kea rah Ragil. Namun, dengan mudahnya Ragil menghindarinya, tiba tiba api hitam itu berbentuk menjadi duri yang mengenai kaki Ragil hingga kakinya berlubang.

“Sial!!” Gumam Ragil menahan sakit

“Hahaha!!” Iblis itu tertawa melihat Ragil sudah kewalahan

“Ragil!!” Lisa berubah menjadi seperti semula lagi

“Ukh, kakiku…”

“Gunakan sihirmu!! Sihir yang kuberikan sebelum kita kesini!!” Kata Lisa sambil menyemangati Ragil

“Eh, benar juga!!” Ragil menutup matanya. “Raf Ertan Evil Jurte We’s Fak… Aly!!

Tubuh Ragil melayang ke atas, cahaya biru menyelimuti tubuhnya. Lama kelamaan dia menjadi monster dengan 2 sayap dibelakangnya dan kuku naga.

“Ugh… Apa apaan sihir itu!! Lisa!!” Iblis itu tampak ketakutan

“Ayah, aku sudah menyembunyikan ini selama ini. 23 tahun kita tidak bertemu, aku hanya mempelajari satu sihir ini…”

“B… Baiklah… Kita bisa bicarakan baik baik kan?” Iblis itu meletakkan Kusanaginya  dan tampak ketakutan

Show me in the hell…” Ragil menancapkan kuku kukunya ke iblis itu

“UAARRGGHH!!!” Iblis itu mengerang kesakitan dan akhirnya lenyap

“Ugh…” Lama kelamaan tubuh Ragil kembali seperti semula, dan pingsan

“Oh iya, aku lupa bicara. Jika kau menggunakan sihir ini, setelah itu kau akan pingsan selama beberapa hari…” Lisa tersenyum dan mengangkat Ragil. Juga Mella. Ragil memindahkan mereka dengan teleportasi ke halaman rumah sakit.

                                                                                    Bersambung
....