PART 6
Six Sense: Danger
“Jadi ada yang dendam padamu dan
kakakmu. Apakah keluargamu pernah melakukan pembunuhan atau semacamnya?” Tanya
Mella pada Lisa
“Sebenarnya…. Aku pernah membunuh
seseorang menggunakan pistol” Kata kata Lisa membuat Ragil dan Mella terkejut
“Bagaimana ceritanya?” Tanya Ragil
“Suatu hari, saat aku berumur 6
tahun, aku dan ayahku pergi ke bank untuk mengambil uang. Tiba tiba terjadi
perampokan disana, perampok itu mengambil uang ayahku dan menembakinya. Aku tak
terima apa yang dilakukannya, ayahku mati ditempat. Secara sadar dan tidak
sadar, aku berlari kearah perampok itu dan menggigit tangannya. Pistol yang
dipegangnya jatuh dan aku langsung mengambilnya. Perampok itu hampir bisa
menangkapku tapi aku menembaknya di bahu. Setelah itu, aku menembakinya hingga
tewas”
“Mungkin… Yang menabrakmu adalah
orang yang dendam padamu. Ia adalah kelompok para penjahat, dan 1 temannya
mati, pembunuhnya yang menjadi sasaran” Mella mulai berbicara serius. “Apa kau
ingat siapa yang dibunuhmu?”
“Ya aku ingat. Namanya adalah Jack, di berita 2 hari setelah kejadian itu, aku baru mengetahui namanya”
“Sst Mel…” Ragil berbisik pada Mella
“Apa?”
“Lihat disamping kananmu” Mella lalu
melihat ke kanan. Seluruh orang yang ada diwarung ini melihatnya berbicara
sendiri. “Kau disangka gila”
“Bodo amat, emang aku pikirin” Jawab
Mella ketus. “Namanya Jack ya… Bagaimana ciri cirinya?”
“Ada 1 tatto naga air tangan
kanannya, tampaknya itu lambang kelompok”
“Jadi, water dragon ya. Aku tahu suatu tempat pembuat tattoo disekitar
sini” Ragil juga mulai berbicara, ia ikut Mella cuek dengan orang orang yang
melihatnya
“Dimana?”
“Ada di selatan jalan ini”
“Baiklah! Ayo berangkat!” Kata Mella
bersemangat yang langsung berdiri dan keluar dari warung itu. Lisa kemudian
menghilang
Ragil membayar semua yang dipesannya
dan langsung pergi ke motor. Ia lihat Mella sudah menunggu disana. Ragil lalu
menyalakan motornya dan berangkat menuju tempat yang dimaksud.
Lima belas menit kemudian, mereka
sampai di tempat tattoo yang dimaksud Ragil. Lisa dari tadi mengikuti Ragil dan
Mella di belakangnya. Kemudian mereka masuk ke dalam tempat tersebut. Disana,
ada 2 orang berbadan kekar sedang duduk di sofa. Ruangan ini sangat bersih,
sangat nyaman jika di tempati. “Tempat ini sudah banyak berubah” Batin Ragil
“Lama tak berjumpa, Ragil” Kata orang
itu
“Kau sama sekali tak berubah, Fer.
Dan Rudi juga sama seperti dulu” orang yang 1 bernama Ferry dan satunya Rudi.
“Kecuali tempat ini, berubah drastis” Komentar Ragil
“Khu khu… Kau tahu juga ternyata”
Kata Ferry
“Ada apa?” Tanya Rudi sambil meminum
kopi yang diletakkannya di meja
“Aku ingin tanya sesuatu” Kata Ragil
pada mereka. “Apa kau pernah melayani orang yang meminta tattoo water dragon?”
“Oh, orang itu. Ada 10 orang yang
memintanya, tampaknya mereka kelompok” Kata Ferry.
“Dimana mereka tinggal?” Mella ikut
ngobrol
“Aku tak tahu pasti. Tapi kabarnya
mereka tinggal di daerah yang bernama ‘Deadly
Gang’ dekat pondok indah”
“Begitu…” Ragil berpikir sejenak.
“Baiklah, terima kasih bantuannya”
“Apa saja untuk sahabat” Kata Rudi
bangun dan menepuk pundak Ragil
Ragil tersenyum. Ia lalu keluar
diikuti Mella dan Lisa. Lisa menghilang kembali dan Ragil dan Mella menaiki motor
Ragil menuju pondok indah. “Pembunuh ya… pecandu narkoba… Huh, masalah yang
sulit” Batin Ragil kesal saat mereka sampai di pondok indah. Saat melamun
begitu, Ragil kaget karena tiba tiba iblis berbisik padanya.
“Jika kau mau, aku bisa membantu”
Kata iblis itu
“Apa yang bisa kau lakukan hah?”
Ragil mengendus kesal
“Aku bisa membantumu mengalahkan
mereka, tapi dengan 1 syarat”
“Apa syaratnya, brengsek?”
“Kau harus mengorbankan 1 perempuan
muda” Iblis itu melirik Mella, Mella tak melihatnya
“Tak… Tak akan kubiarkan kau
mengambilnya. Aku akan mencarikannya”
“Huh, baiklah. Sekarang aku akan
masuk ke tubuhmu” Iblis itu menghilang masuk ke dalam tubuh Ragil. Tubuh Ragil
serasa disengat listrik, Ragil lalu pingsan.
Tiga jam setelah kejadian itu, Ragil
bangun dengan badan nyeri dan babak belur di sekujur tubuhnya. “Rumah sakit?”
Batin Ragil. Ragil melihat Mella sedang duduk di kursi dekat Ragil sambil
memasang wajah cemas. Mella yang melihat Ragil sudah sadar langsung memeluk
Ragil. Ragil kaget saat Mella memeluknya.
“Apa… Apa yang terjadi?” Tanya Ragil
saat Mella memeluknya
“Saat kau mendadak pingsan, tubuhmu
dikendalikan oleh iblis. Aku dan dirimu yang dirasuki menuju ke dalam gang yang
bertuliskan “Deadly”. Kau tampak
seperti orang mati, saat itu, ada 4 orang menghadang kita. Tapi kau membunuhnya
dengan tangan kosong. Saat masuk kedalam hingga ujung, ada 5 orang lagi yang
menghadang dan nasibnya sama seperti 4 orang tadi. Tapi, yang terakhir ada
orang berbadan kekar seperti randy orton.
Kau dihajarnya hingga babak belur. Kau seperti psikopat yang sama sekali tak
merasa sakit, di dekat dirimu ada botol minuman keras dan kau mengambilnya. Kau
memukulkannya ke kepalanya hingga bocor dan botol yang pecah kau tusukkan ke
lambung dan jantungnya hingga mati dan organ tubuhnya berceceran” Mella mulai
mengeluarkan air mata dan diusap oleh Ragil
“Aku tak apa apa, jadi janganlah
menangis” Kata Ragil
“Sebenarnya Ragil… Aku mencintaimu”
Kata Mella yang sekarang wajahnya memerah memalingkan wajahnya, Ragil kaget
mendengarnya
“Aku juga…” Ragil tersenyum sambil
mengusap kepala Mella
Saat keadaan romantis tersebut, tiba
tiba Lisa datang. Lisa berterima kasih pada Ragil dan Mella, dan kemudian
menghilang. Mella kemudian melepas pelukannya dan kembali duduk ditempatnya
semula.
Tiba tiba suster datang untuk memeriksa
keadaan Ragil.
“Bagaimana sus?” Tanya Mella
“Sudah membaik, besok dia boleh
pulang” Suster tersebut tersenyum dan berjalan keluar
“Syukurlah…” Mella kembali mendekati
Ragil. “Besok kau mau kemana setelah keluar?”
“Mungkin aku akan ke kamar Ana dulu”
“Selanjutnya?”
“Pulang ke rumah, ada tugas sekolah
yang belum ku kerjakan, 2 hari lagi masuk” Kata Ragil sambil memasang wajah
lesu
“Hah… Kamu malas malasan terus sih
saat liburan” Mella tertawa kecil
“Iya sih…” Kata Ragil sambil
menggaruk kepalanya. Mereka lalu tertawa bersama
Satu
hari kemudian, Ragil keluar dari rumah sakit. Ia menghela napas panjang, Ragil
dan Mella lalu pergi ke kamar Ana. Mereka terkejut melihat kamar Ana sudah
kosong. Mereka lalu berlari ke tempat pendaftaran, mereka bertanya apakah
pasien Anggrek nomor 13 sudah pulang. Jawaban suster membuat hati Ragil sangat
lega, Ana sudah pulang. Mereka lalu menuju ke parkiran dan mencari motor Ragil
dan langsung menuju rumah orang tuanya.
“Berapa lama dari sini ke rumah orang
tuamu?” Tanya Mella
“Ya sekitar 2 – 2.5 jam” Jawab Ragil
“Eeh! Lama banget!”
“Iya emang”
“Bisa agak dicepetin ga
kecepatannya?”
“Boleh”
Ngeenng!! Ragil mempercepat kelajuan
motornya membuat Mella kaget. Mella mengeluh karena Ragil mempercepat
kelajuannya hingga 100 KM/Jam.
“Ntar kalo ditilang gimana?!” Mella
agak marah
“Santai aja, disini jarang ada
polisi”
Satu jam kemudian, mereka sampai di
rumah orang tua Ragil. Tanpa basa basi, Ragil dan Mella masuk kedalam dan melihat
Ana dan orang tuanya sedang berbicara dengan seseorang. Ragil dan Mella lalu
mendekati mereka. Tampaknya Ragil dan Mella sudah mengenalnya.
“Kau…”
Bersambung
....
No comments:
Post a Comment