Find a other post

Tuesday, September 1, 2015

Six Sense



PART 6
Six Sense: Danger

“Jadi ada yang dendam padamu dan kakakmu. Apakah keluargamu pernah melakukan pembunuhan atau semacamnya?” Tanya Mella pada Lisa

“Sebenarnya…. Aku pernah membunuh seseorang menggunakan pistol” Kata kata Lisa membuat Ragil dan Mella terkejut

“Bagaimana ceritanya?” Tanya Ragil

“Suatu hari, saat aku berumur 6 tahun, aku dan ayahku pergi ke bank untuk mengambil uang. Tiba tiba terjadi perampokan disana, perampok itu mengambil uang ayahku dan menembakinya. Aku tak terima apa yang dilakukannya, ayahku mati ditempat. Secara sadar dan tidak sadar, aku berlari kearah perampok itu dan menggigit tangannya. Pistol yang dipegangnya jatuh dan aku langsung mengambilnya. Perampok itu hampir bisa menangkapku tapi aku menembaknya di bahu. Setelah itu, aku menembakinya hingga tewas”

“Mungkin… Yang menabrakmu adalah orang yang dendam padamu. Ia adalah kelompok para penjahat, dan 1 temannya mati, pembunuhnya yang menjadi sasaran” Mella mulai berbicara serius. “Apa kau ingat siapa yang dibunuhmu?”

“Ya aku ingat. Namanya adalah Jack, di berita 2 hari setelah kejadian itu, aku baru mengetahui namanya”

“Sst Mel…” Ragil berbisik pada Mella

“Apa?”

“Lihat disamping kananmu” Mella lalu melihat ke kanan. Seluruh orang yang ada diwarung ini melihatnya berbicara sendiri. “Kau disangka gila”

“Bodo amat, emang aku pikirin” Jawab Mella ketus. “Namanya Jack ya… Bagaimana ciri cirinya?”

“Ada 1 tatto naga air tangan kanannya, tampaknya itu lambang kelompok”

“Jadi, water dragon ya. Aku tahu suatu tempat pembuat tattoo disekitar sini” Ragil juga mulai berbicara, ia ikut Mella cuek dengan orang orang yang melihatnya

“Dimana?”

“Ada di selatan jalan ini”

“Baiklah! Ayo berangkat!” Kata Mella bersemangat yang langsung berdiri dan keluar dari warung itu. Lisa kemudian menghilang

Ragil membayar semua yang dipesannya dan langsung pergi ke motor. Ia lihat Mella sudah menunggu disana. Ragil lalu menyalakan motornya dan berangkat menuju tempat yang dimaksud.

Lima belas menit kemudian, mereka sampai di tempat tattoo yang dimaksud Ragil. Lisa dari tadi mengikuti Ragil dan Mella di belakangnya. Kemudian mereka masuk ke dalam tempat tersebut. Disana, ada 2 orang berbadan kekar sedang duduk di sofa. Ruangan ini sangat bersih, sangat nyaman jika di tempati. “Tempat ini sudah banyak berubah” Batin Ragil

“Lama tak berjumpa, Ragil” Kata orang itu

“Kau sama sekali tak berubah, Fer. Dan Rudi juga sama seperti dulu” orang yang 1 bernama Ferry dan satunya Rudi. “Kecuali tempat ini, berubah drastis” Komentar Ragil

“Khu khu… Kau tahu juga ternyata” Kata Ferry

“Ada apa?” Tanya Rudi sambil meminum kopi yang diletakkannya di meja

“Aku ingin tanya sesuatu” Kata Ragil pada mereka. “Apa kau pernah melayani orang yang meminta tattoo water dragon?”

“Oh, orang itu. Ada 10 orang yang memintanya, tampaknya mereka kelompok” Kata Ferry.

“Dimana mereka tinggal?” Mella ikut ngobrol

“Aku tak tahu pasti. Tapi kabarnya mereka tinggal di daerah yang bernama ‘Deadly Gang’ dekat pondok indah”

“Begitu…” Ragil berpikir sejenak. “Baiklah, terima kasih bantuannya”

“Apa saja untuk sahabat” Kata Rudi bangun dan menepuk pundak Ragil

Ragil tersenyum. Ia lalu keluar diikuti Mella dan Lisa. Lisa menghilang kembali dan Ragil dan Mella menaiki motor Ragil menuju pondok indah. “Pembunuh ya… pecandu narkoba… Huh, masalah yang sulit” Batin Ragil kesal saat mereka sampai di pondok indah. Saat melamun begitu, Ragil kaget karena tiba tiba iblis berbisik padanya.

“Jika kau mau, aku bisa membantu” Kata iblis itu

“Apa yang bisa kau lakukan hah?” Ragil mengendus kesal

“Aku bisa membantumu mengalahkan mereka, tapi dengan 1 syarat”

“Apa syaratnya, brengsek?”

“Kau harus mengorbankan 1 perempuan muda” Iblis itu melirik Mella, Mella tak melihatnya
“Tak… Tak akan kubiarkan kau mengambilnya. Aku akan mencarikannya”

“Huh, baiklah. Sekarang aku akan masuk ke tubuhmu” Iblis itu menghilang masuk ke dalam tubuh Ragil. Tubuh Ragil serasa disengat listrik, Ragil lalu pingsan.

Tiga jam setelah kejadian itu, Ragil bangun dengan badan nyeri dan babak belur di sekujur tubuhnya. “Rumah sakit?” Batin Ragil. Ragil melihat Mella sedang duduk di kursi dekat Ragil sambil memasang wajah cemas. Mella yang melihat Ragil sudah sadar langsung memeluk Ragil. Ragil kaget saat Mella memeluknya.

“Apa… Apa yang terjadi?” Tanya Ragil saat Mella memeluknya

“Saat kau mendadak pingsan, tubuhmu dikendalikan oleh iblis. Aku dan dirimu yang dirasuki menuju ke dalam gang yang bertuliskan “Deadly”. Kau tampak seperti orang mati, saat itu, ada 4 orang menghadang kita. Tapi kau membunuhnya dengan tangan kosong. Saat masuk kedalam hingga ujung, ada 5 orang lagi yang menghadang dan nasibnya sama seperti 4 orang tadi. Tapi, yang terakhir ada orang berbadan kekar seperti randy orton. Kau dihajarnya hingga babak belur. Kau seperti psikopat yang sama sekali tak merasa sakit, di dekat dirimu ada botol minuman keras dan kau mengambilnya. Kau memukulkannya ke kepalanya hingga bocor dan botol yang pecah kau tusukkan ke lambung dan jantungnya hingga mati dan organ tubuhnya berceceran” Mella mulai mengeluarkan air mata dan diusap oleh Ragil

“Aku tak apa apa, jadi janganlah menangis” Kata Ragil

“Sebenarnya Ragil… Aku mencintaimu” Kata Mella yang sekarang wajahnya memerah memalingkan wajahnya, Ragil kaget mendengarnya

“Aku juga…” Ragil tersenyum sambil mengusap kepala Mella

Saat keadaan romantis tersebut, tiba tiba Lisa datang. Lisa berterima kasih pada Ragil dan Mella, dan kemudian menghilang. Mella kemudian melepas pelukannya dan kembali duduk ditempatnya semula.
Tiba tiba suster datang untuk memeriksa keadaan Ragil.

“Bagaimana sus?” Tanya Mella

“Sudah membaik, besok dia boleh pulang” Suster tersebut tersenyum dan berjalan keluar

“Syukurlah…” Mella kembali mendekati Ragil. “Besok kau mau kemana setelah keluar?”

“Mungkin aku akan ke kamar Ana dulu”

“Selanjutnya?”

“Pulang ke rumah, ada tugas sekolah yang belum ku kerjakan, 2 hari lagi masuk” Kata Ragil sambil memasang wajah lesu

“Hah… Kamu malas malasan terus sih saat liburan” Mella tertawa kecil

“Iya sih…” Kata Ragil sambil menggaruk kepalanya. Mereka lalu tertawa bersama

            Satu hari kemudian, Ragil keluar dari rumah sakit. Ia menghela napas panjang, Ragil dan Mella lalu pergi ke kamar Ana. Mereka terkejut melihat kamar Ana sudah kosong. Mereka lalu berlari ke tempat pendaftaran, mereka bertanya apakah pasien Anggrek nomor 13 sudah pulang. Jawaban suster membuat hati Ragil sangat lega, Ana sudah pulang. Mereka lalu menuju ke parkiran dan mencari motor Ragil dan langsung menuju rumah orang tuanya.

“Berapa lama dari sini ke rumah orang tuamu?” Tanya Mella

“Ya sekitar 2 – 2.5 jam” Jawab Ragil

“Eeh! Lama banget!”

“Iya emang”

“Bisa agak dicepetin ga kecepatannya?”

“Boleh”

Ngeenng!! Ragil mempercepat kelajuan motornya membuat Mella kaget. Mella mengeluh karena Ragil mempercepat kelajuannya hingga 100 KM/Jam.

“Ntar kalo ditilang gimana?!” Mella agak marah

“Santai aja, disini jarang ada polisi”

Satu jam kemudian, mereka sampai di rumah orang tua Ragil. Tanpa basa basi, Ragil dan Mella masuk kedalam dan melihat Ana dan orang tuanya sedang berbicara dengan seseorang. Ragil dan Mella lalu mendekati mereka. Tampaknya Ragil dan Mella sudah mengenalnya.

“Kau…”

                                                                                                Bersambung
....

No comments:

Post a Comment